Wednesday, May 13, 2020

Menulis Deskripsi Diri Untuk Sertifikasi Dosen

Tahap terakhir yang harus dilalui oleh DYS (Dosen Yang Serdos) padalah menulis Deskripsi Diri  yang kemudian akan dinilai oleh assessor. Deskripsi Diri atau biasa disebut DD di kalangan dosen menjadi proses yang cukup menegangkan. Pasalnya tidak sedikit DYS yang tidak lulus sertifikasi dosen meski lulus sampai tahap penulisan DD.

Sejak 2019 lalu, proses sertifikasi dosen dilakukan secara online melalui aplikasi SISTER (Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi). Aplikasi ini diluncurkan pada tahun 2017 oleh Kemenristekdikti. Yang akan menjadi pusat manajemen data dosen ~ kontrol sepenuhnya ada pada dosen masing masing. Masing masing dosen akan memiliki akun dosen, dosen yang bersangkutan dapat mengubah atau memperbaharui tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi dosen tersebut dalam SISTER. 

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilakukan dengan mengirimkan bundel berkas yang mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi DYS. Proses secara online melalui aplikasi SISTER mempermudah proses sertifikasi, dapat dilakukan darimana saja dan menghemat banyak hal. Termasuk penggunaan kertas hingga dapat ikut serta menjaga lingkungan. Hambatan yang mungkin terjadi hanya pada kecepatan internet dan sistem yang terkadang mengalami gangguan. Setidaknya itulah yang saya rasakan di tahun 2019 lalu.

Setelah lulus beberapa tahapan, antara lain tahap penilaian Bahasa Inggris (TKBI) dan Kemampuan Akademik Dasar (TKDA), penilaian Persepsional Diri, Penilaian atasan, rekan sejawat dan mahasiswa maka sampailah saya pada proses terakhir yaitu penulisan Deskripsi Diri. Owh iya, DYS atau dosen yang dipanggil untuk melakukan sertifikasi ditentukan oleh lembaga pusat. Dalam kasus saya oleh LLDIKTI wilayah VIII sebagai Lembaga yang menaungi UNU NTB. Syaratnya adalah DYS tersebut sudah memiliki jabatan fungsional minimal Asisten Ahli, sudah melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi minimal dua tahun, serta disesuaikan dengan kuota Prodi/Fakultas/Perguruan Tinggi.

***

Menulis bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Disamping saya punya pengalaman menulis di blog pribadi, portal online atau media massa, sebagai dosen tentu saja kemampuan menulis juga diharuskan. Meski begitu tetap saja ada sedikit rasa deg deg ser  dalam menulis DD kali ini. Syukurnya dalam menulis DD kita sudah diberikan poin poin yang harus dijabarkan beserta bobot penilaiannya. Jadi, kita dapat menyesuaikan dan memastikan semua bobot terpenuhi. 

Secara garis besar Deskripsi Diri tentu saja berisi tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dosen yang bersangkutan. Yang terdiri dari Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada masyarakat. Terdapat 5 unsur yang akan dinilai yaitu: 
1.  Pengembangan Kualitas Pembelajaran, bobot nilai 28
2. Pengembangan Keilmuan, bobot nilai 34
3. Pengabdian Kepada Masyarakat, bobot nilai 16
4. Manajemen Pengelolaan Institusi, bobot 12
5.  Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa, bobot 10

*dari buku panduan serdos 2019, edit by me

Masing masing unsur tersebut memiliki butir/poin yang akan dinilai ~ yang diikuti dengan kompetensi penilaiannya. Unsur pengembangan keilmuan memiliki bobot penilaian paling tinggi. Di sini akan dinilai tentang publikasi ilmiah, usaha inovatif, konsistensi sampai dengan target kerja dalam berkarir menjadi dosen. Publikasi ilmiah yang dibutuhkan minimal dua dalam satu tahun ajaran. Satu untuk semester ganjil, satu untuk semester genap. 

Satu poin/butir penilaiannya harus ditulis minimal 300 kata. Singkat saja sebenarnya, tapi kalau tidak terbiasa susah juga. Disini dibutuhkan keahlian untuk sedikit narsis dengan elegan...wkwk. Menurut pengalaman saya, sebelum mulai menulis DD ada baiknya lakukan hal hal berikut:

1. Renungkan, kenali diri masing masing, kelebihan dan kekurangan. Jangan cuma dihayalkan, tapi ditulis. Bila perlu buat dalam bentuk tabel antara kelebihan dan kekurangan.

2. Catat selama menjadi dosen sudah ngapain aja. Kalau selama ini rajin mencatat, atau paling tidak membuat jadwal, target kerja/to do list hal ini akan lebih mudah. Tulis kegiatan apa saja yang sudah diikuti, penelitian yang telah dilakukan. Bagaimana usaha yang dilakukan dalam menghidupkan suasana belajar.

3. Tentukan benang merah yang akan diangkat dalam DD. Hal ini penting agar kita bisa fokus dan konsisten dalam menulis DD. Jangan sampai kita menulis kesana kemari karena walaupun unsur penilaiannya sudah ditentukan tidak menjamin kita akan fokus jika di awal kita tidak menentukan benang merah dari diri kita yang akan kita angkat/tulis. Saya rasa ini akan memudahkan asesor dalam penilaian. 

4. Buatlah draft terlebih dahulu. Saat mulai menulis jangan pikirkan soal mengedit. Tulis saja dulu, tulis apa yang ada di otak. Setelah selesai ditulis, barulah luangkan waktu untuk mengedit tulisan. Sebelum menulis DD di SISTER sebaiknya tulis dulu di Microsoft word atau aplikasi menulis lainnya. Sehingga mudah untuk di edit, dikurangi atau ditambahkan jika dibutuhkan. Karena kalau langsung nulis di SISTER takutnya terjadi gangguan pada sistem dan menyusahkan kita dalam mengedit DD.

5. Cek, Cek dan Cek. Sebelum memindahkan DD yang sudah ditulis di Microsoft word ke SISTER lakukanlah pengecekan. Baca berulang ulang. Ini akan membantu kita menemukan kekurangan yang perlu diperbaiki. Perhatikan typo dan tanda baca. Kan nggak enak ya baca tulisan yang banyak typo dengan tanda baca yang tidak jelas.

6. Menulislah dengan Jujur. Jika di kehidupan nyata kita memang melakukan sesuatu maka akan mudah untuk menuliskannya. Beda cerita kalau harus mengarang bebas dari A sampai Z. Bisa bikin puyeng. Oleh sebab itulah nulis novel lebih susah dari nulis ilmiah... -,-

Menulis DD untuk serdos memang membutuhkan kepiawaian dalam menonjolkan diri sendiri tapi tidak lupa dengan kelemahan yang juga dimiliki. Menulislah dengan gaya sendiri. Saya rasa itu lebih mengena ke hati para asesor. Ceilaah. 

Selamat berjuang teman teman!

Wednesday, April 29, 2020

#MarriedLife: Me Time Pasca Melahirkan

Cailaah...baru lahiran dua bulan aja udah mikirin me time ... 

Ya biar sih. Supaya seimbang kaaan, antara kesibukan mengurus bayi dengan kewarasan Ibu :p

Me time versi masih belum punya bayi dengan punya bayi tentu jauh berbeda. Apalagi Katya baru berusia dua bulan. Hampir 24 jam nempel sama saya. Masih sangat bergantung pada ibunya. Jadi Ibu nggak bisa jauh jauh dari Katya, begitupun sebaliknya. 

Dulu sebelum punya bayi, me time saya adalah berlama lama membaca buku, berlama lama di depan laptop, tidur siang sepuasnya, atau keluar ketemu teman teman sekadar buat ngobrol dan muter muter mall. Sekarang mah jangan ditanya. Berubah seratus persen...wkwk *pukpuk Ibu ~ apalagi di masa pandemi begini.

Pasca melahirkan, hal hal yang dulu terlihat sepele dan hanya menjadi bagian dari rutinitas sehari hari kini menjadi me time saya yang berharga. Melipir sejenak doang padahal. Apa sajakah itu, ini dia:

Mandi

Yak, sekarang mandi menjadi me time saya. Meskipun yaa tahu sendiri kalau Ibu Ibu dengan bayi mandinya kayak apa. Nggak bisa berlama lama sambil karakoen dan lulur luluran. Ntar si bayi keburu oek oek. Mandi bikin saya rileks, lumayan bikin badan dan pikiran segar sesaat. Juga pas mandi nggak liat bayi dululah minimal, jadi bisa santai sekejap...hahaha

Masak

Kabur ke dapur buat masak ternyata lumayan bikin saya lebih segar. Rehat sejenak dari mengurus bayi. Padahal masaknya yang simpel simpel, tapi lumayan bikin happy lho. Setelah itu bisa makan dengan perasaan puas.

Rebahan Lima Menit

Sejauh ini rebahan lima menit doang di siang hari enak banget rasanya, ya ampuun. Rebahan tanpa ngapa ngapain, rilekskan badan. Lumayan jadi recharge energi lho. Cobain deh. Bye bye tidur siangku yang pulas -,-

Scroll Sosmed

Kalau ini semua orang melakukannya ya di masa sekarang. Scroll Instagram sampai bosan...haha. Sekarang yang diintip akun akun mainan anak, baju baju anak yang lucu lucu, juga resep resep cemilan yang bikin ngiler tapi tak punya waktu untuk membuatnya.

Itu doang si kayaknya. Sekarang harus pinter pinter cari waktu. Melipir secepatnya untuk mengerjakan berbagai hal ketika Katya tidur. Kecepatannya saya dalam melakukan sesuatu sudah teruji gaes. Bisa makan dan mandi dengan cepat...wkwk. Pokoknya Katya harus tidur dulu baru Ibu bisa kerja. Soalnya walaupun dia lagi anteng nggak tega rasanya ninggalin dia. Pengen ngajakin main aja. Kalau ada Bapak mah Katya diserahkan ke Bapak buat di gendong. Jadi Ibu bisa ngerjain yang lain deh.

Apakah tidak bosan? ~ bohong sih kalau bilang nggak bosan. Tapi ya mau bagaimana lagi, mau keluar jalan jalan juga nggak bisa kaaan. Padahal pengen ke baby shop *tjurhat*. Tapi yang paling berasa itu sih pegelnya cuy. Iyaa badan rasanya kayak mau rontok. Apalagi bagian punggung. Habis pandemi kayaknya saya mau kabur ke salon buat pijit pijit cantik dan spa :*

sekian curhatan Ibu Katya kali ini :)

Much Love!
A.

Sunday, March 29, 2020

#MarriedLife: Setelah Satu Bulan Melahirkan

Kini saya sudah bisa tersenyum lega, sudah lebih tenang, lebih rileks, sedikit lebih paham, dan lebih percaya diri dalam mengurus Katya. 

Kini Katya sudah berumur 40 hari, sudah lebih dari satu Bulan ternyata. Pipinya sudah lebih gembul, kulitnya jadi lebih mantap, badannya lebih berisi. Ia sudah pintar mengeluarkan suara suara, mengangkat badannya sebagai sinyal untuk digendong, mengisap tangannya sebagai tanda lapar, menggerakkan badannya seolah mau tengkurap, menunjukkan berbagai ekspresi wajah sampai mengeluarkan tangisan tangisan manja yang suka saya dengar. Katya kini sudah bisa diajak bermain, tidak hanya tidur seharian.

Saya bisa menceritakan hal tersebut di hari ke 40 usianya, karena di awal kelahirannya tidaklah begitu. 

Sepulang dari rumah sakit, saya menyadari bahwa saya panikan. Saya panik tiap kali Katya menangis, saya khawatir tidak bisa menyusui Katya dengan baik. Merasa deg degan tiap kali Katya mau menyusu. Saya takut pelekatannya akan sulit, hingga dia akan menangis keras karena putus asa. Dan ya, itu membuat saya semakin panik. Sebagai ibu baru pengalaman menyusui kali ini tentu saja menjadi hal yang baru juga. Meski saya menyiapkan diri dengan mengikuti kelas persiapan menyusui sebelum melahirkan, menghadapi kenyataannya tidaklah semudah itu. Saya masih kaget dengan perubahan drastis yang terjadi. Kaget menyadari ada yang bergantung 100 % pada diri ini. 

Saya berkonsultasi dengan konselar ASI untuk mendapatkan pencerahan dan paling tidak menenangkan saya dalam proses menyusui. Setelah konsultasi saya semakin paham apa yang dibutuhkan oleh si bayi dan bagaimana menghadapinya. Intinya jangan panik, Ibu harus lebih dulu merasa nyaman, tenang dan senang agar proses menyusui berjalan lancar. Saya dan Katya sama sama belajar bagaimana seharusnya proses menyusui. Dan sekarang dia semakin pintar menyusu. Hal yang membuat saya sangat bersyukur adalah ASI saya langsung deras, tidak ada kendala meskipun saya melahirkan dengan cara operasi caesar. 

Hal yang mengagetkan lainnya adalah begadang yang harus saya jalani di masa awal awal kelahiran Katya. Beneran deh, saya sampai stress, pusing, merasa kelelahan dan sangat mengantuk. Katya kadang ngajakin begadang di malam hari sampai lima jam. Nggak lima jam sekaligus sih, tapi di antara lima jam itu dia bolak balik menyusu tidur cuma 15 menit bangun menyusu sampai 30 menit. Saya jadi harus menyusui sambil mengangguk angguk menahan kantuk. Di tengah rasa ngantuk yang mendera saya jadi mudah kesal, pernah juga sampai nangis nangis...haha. Kalau diingat sekarang sih jadi lucu.

Begadang menjadi begitu berat buat saya Karena saya tidak biasa begadang. Jaman sekolah/kuliah saya lebih memilih untuk tidur dulu untuk bangun dini hari kemudian menyelesaikan tugas yang belum selesai. Setelah bekerja paling mentok saya tidur jam 10 malam. Saya lebih memilih menyelesaikan pekerjaan pekerjaan di siang hari biar bisa tidur nyenyak di malam hari. 

Di satu Bulan pertamanya Katya sudah mencapai banyak milestone sesuai umurnya. Itu membuat saya bersyukur. Ia tumbuh sehat. Sudah menjalani imunisasi di Bulan pertama. Kenaikan berat dan tinggi badan. Dan makin bikin gemeess. Saat ini tidur malamnya sudah lebih teratur. Kami bertiga sudah bisa menikmati tidur dengan baik. Nggak bikin ibunya jadi zombie lagi di pagi hari...wkwk

Beruntung punya super tim yang sangat hebat. Pak suami yang selalu lebih tenang since day one, yang selalu nyiepin cemilan dan minuman di kamar, yang selalu sigap mijitin kalau saya bilang pegel. Padahal besok paginya harus ngantor tapi tetap ikut bangun nemenin begadang. Luv! ~ kalau sekarang sudah bisa tidur nyenyak terjadwal ya.

Katya, yuk sama sama kita belajar. Sehat terus ya sayangku.

Much Love!
A.

Saturday, March 28, 2020

#MarriedLife: Welcome To The World, Katya!

"Kenapa tidak ada yang cerita kalau kontraksi rasanya sesakit ituuuuu....."

Perkiraan dokter bayi saya akan lahir di tanggal 22 Februari 2020. Tapi katanya bisa maju satu atau dua minggu dan bisa juga mundur satu atau dua minggu. Jadi kalau sudah masuk 37 minggu, maka saya sudah harus bersiap siap. Saat itu saya selalu bilang sama bayi saya kalau lahirnya setelah ibu pemberkasan BKD ya nak. Biar ibu bisa langsung fokus untuk lahiran. Ternyata bayi saya mengikuti, atau memang sudah ketentuan yang maha kuasa. Kelahirannya maju satu minggu dari tanggal perkiraan dokter. 

Hari Senin tanggal 17 Agustus 2020 saya mendatangi UGD rumah sakit yang sudah saya pilih sebagai tempat lahiran. Saya datang karena sudah mengalami pendarahan dan kontraksi sejak semalam. Saya tidak menyangka kalau melahirkan bayi saya akan lebih cepat dari perkiraan. Wong hari minggu kemarinnya saja saya masih jalan jalan ke mall. 

Sesampainya di UGD saya langsung diperiksa oleh bidan yang bertugas. Hasilnya saya sudah bukaan empat. Wow kaget juga. Ternyata sudah memasuki fase aktif, bukaan empat. Mendengar sudah bukaan empat saya optimis kalau bukaannya akan terus maju dan bisa lahiran normal hari itu. Pak suami dengan setia menemani dan langsung mengurus administrasi untuk kamar perawatan.

Sejak masih hamil, saya berkonsultasi dengan dokter tentang melahirkan secara normal. Dan dokter saya sangat mendukung, dia menjelaskan tentang kemungkinan kemungkinan dan kondisi saya. Menurutnya saya bisa lahiran normal asalkan bayinya tidak terlalu besar. Bayi dengan berat badan di bawah 3,5 kg masih bisa dilahirkan secara normal. Saat itu berat bayi saya 2,8 kg, pas buat lahir normal katanya dengan melihat berat badan dan tinggi badan saya juga.

Dari UGD saya dibawa ke ruang bersalin. Sesampainya di ruang bersalin saya langsung diobservasi. Segala macam dicek, termasuk mengecek detak jantung bayi. Jam menunjukkan pukul 12 siang, saya masih bisa ketawa ketawa, mengobrol santai, menghabiskan jatah makan siang dan buang air kecil dengan normal di toilet. Rasa kontraksi yang datang masih bisa saya tahan. Memasuki sekitar jam 14.00 alias jam 2 siang rasa kontraksi yang datang begitu kuat. Saya istigfar berkali kali. Rasa sakit apa ini ya Allah ...

Di ruangan bersalin itu ada Pak suami dan kak Epi kakak ipar saya yang setia mendampingi. Mengingatkan buat atur nafas dan beristigfar, berdzikir. Juga mengurut ngurut pinggang yang rasanya kayak mau copot dari badan. Bidan datang melakukan pemeriksaan dalam, dan ternyata baru bukaan 5. Yang dari pagi ke RS sampai siang baru bukaan 5. Diperiksa sorenya pun masih bukaan 5. Sedang kontraksinya jor joran. Kepala si bayi masih di atas aja katanya, belum turun turun. Terus saya bagaimana? Saya sudah tidak karuan, lemas, menahan sakit. Minum doang yang bisa. 

Level kekuatan saya ternyata cuma sampai bukaan 5. Saya secara sadar meminta untuk di operasi. Pak suami juga menyetujui. Mungkin belio juga tidak tahan melihat istrinya kesakitan. Akhirnya operasi dijadwalkan jam 22.00. Saya tidak ada persiapan apapun untuk menjalani operasi. Sebelumnya juga saya tidak pernah melakukan operasi apapun. Jadi saya tidak punya bayangan sama sekali tentang ruangan operasi dan bagaiamana operasi berlangsung. Sekilas doang lihat di film film atau di sosmed. 

Cerita tentang pengalaman melahirkan secara operasi caesar akan saya ceritakan di post tersendiri ya. Check it out.

Tertulis jam lahirnya 22.35 waktu Indonesia tengah, masih hari Senin tanggal 17 Februari 2020. Bayi mungil perempuan dengan suara tangis yang menggelegar, kulit putih bersih, dengan rambut tebal itu lahir. Berat badannya 2,9 kg dengan panjang badan 50 cm. Kami dengan bangga memberinya Nama Katya Nuwaira Anjani. Nama tersebut adalah doa dari Ibu dan Bapak agar is menjadi hamba Allah yang sehat kuat cerdas dan bermanfaat bagi orang banyak. Katya berarti murni diambil dari bahasa Rusia. Nuwaira diambil dari bahasa Arab yang memiliki arti secercah cahaya. Sedangkan Anjani diambil dari nama Bapaknya. Maka kami berharap ia menjadi penerang bagi dirinya sendiri dan sekitarnya. Berhati suci murni. 


Selamat datang di dunia Katya! ~ meski dunia tak selalu ramah tapi pasti bisa dilalui. Tumbuhlah yang kuat. Ibu dan Bapak akan selalu ada untukmu. Let's explore the world!

Tuesday, February 11, 2020

#MarriedLife: Pregnancy Story - Kelas Prenatal Yoga


Bisa dikatakan bahwa yoga bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Sebelum hamil saya sering senam yoga di studio senam dekat rumah. Yah walaupun nggak rajin rajin banget. Tapi minimal tahu gerakan gerakan dasarnya. Paham kalau yoga itu menggunakan badan sendiri sebagai beban. Pertama kali ikut, waaah jangan ditanya rasa pedesnya kayak apa ni badan. Sampai cenut cenut euy. Mau nggak mau ya harus diulang lagi senam yoganya supaya sakit badannya hilang. Tapi lama kelamaan enjoy juga. Soalnya yoga kan nggak terlalu banyak gerak, tapi keringat bercucuran mengalir deras. Asalkan pinter ngatur nafas. Otot otot badan juga jadi lebih lentur, nggak kaku kaku amatlah. Body language jadi lebih oke.

Setelah tahu bahwa saya hamil maka saya sudah tidak pernah datang lagi ke studio senam buat olahraga. Gimana mau olahraga kalau di trimester pertama saya mual muntah parah. Bawaannya lemes tak karuan, mager dan pusing...huhu. Beruntung secara keseluruhan saya sehat dan adek bayi dalam perut juga sehat. Alhamdulillah. Dalam hati saya berjanji pada diri sendiri kalau saya akan mencoba yoga untuk ibu hamil jika kehamilan saya sudah cukup umur untuk melakukannya. Saya memilih untuk mencoba prenatal yoga atau yoga hamil karena saya ingin agar badan saya lebih siap untuk bekerja pada saat persalinan. Ingin agar badan saya lebih lentur dan kuat. Sederhananya sih supaya lebih sehat dalam menghadapi persalinan.

Memasuki trimester ketiga setelah kepala bayi sudah turun ke bawah dan dokter juga telah mengizinkan maka mulailah saya melakukan prenatal yoga. Awalnya saya melakukan yoga di rumah, berbekal video video prenatal yoga yang saya peroleh dari YouTube. Banyak video prenatal yoga yang dapat diikuti. Adek bayi seringkali aktif bergerak tiap kali saya mengajaknya yoga. Bikin happy!

Untuk mencari suasana baru saya mencoba mengikuti kelas prenatal yoga di @parenting_yogaformom yang diasuh oleh dr. Kiki seorang dokter yang juga pengajar prenatal yoga tersertifikasi. Ini adalah tempat yang sama dengan tempat yang mengadakan kelas persiapan menyusui yang pernah saya ikuti. Cerita tentang kelas persiapan menyusui ada di sini ya.

Happy banget ikut kelas prenatal yoga ini. Saya mendapatkan insight baru tentang bagaimana memandang proses melahirkan. Bahwa proses melahirkan sesungguhnya adalah proses sakral, proses perjalanan religi perempuan dengan Tuhannya. Proses yang pasti akan mampu dilewati oleh seorang perempuan. Perempuan terlahir dengan kekuatan untuk bisa mengandung, melahirkan sampai menyusui anaknya. Tinggal bagaimana Kita memberdayakan diri untuk lebih siap menghadapi itu semua. Di kelas ini, saya juga mendapatkan ilmu tentang bagaimana mengatur nafas, melatih kekuatan otot otot yang akan bekerja saat persalinan, berkomunikasi dengan janin, menghirup sebanyak mungkin energi positif yang semuanya itu akan sangat bermanfaat bagi ibu hamil. 

Saya juga bertemu dengan ibu ibu hamil lainnya. Kami saling bertukar cerita dan pengalaman. Dari pengalaman ibu ibu tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa masing masing ibu hamil merasakan pengalaman melahirkan yang berbeda beda. Ada yang lancar bayinya langsung keluar dengan hanya dilalui sedikit mules, ada yang harus diberikan perangsang, ada yang nggak mempan dikasi perangsang dan harus dioperasi, ada yang pendarahan dulu, dan lain lain. 

Kita harus memahami bahwa bayi itu cerdas, dia akan memilih jalannya sendiri untuk lahir. Ibu hanya bersiap siap, memberdayakan diri sebaik mungkin agar dapat menjalani persalinan yang minim trauma. Saya pribadi memasrahkan diri, jika nanti ada indikasi medis yang membuat saya harus operasi juga siap. Yang terpenting adalah keselamatan ibu dan bayi. Iyaaa kaaan :)) 

Yuk, ikut prenatal yoga!

Much Love
A.

Sunday, January 26, 2020

Remember This; Everyone Has Their Own Battle

Di jaman yang serba transparan ini kayaknya semua hal tentang orang lain bisa kita ketahui dalam waktu singkat. Bayangin aja, kita bisa tahu isi rumah orang lain, isi dapurnya, isi lemarinya, isi tasnya, isi dompetnya, isi kepalanya bahkan isi atmnya. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya orang yang main sosial media. Siapa sih hari gini yang nggak punya akun sosial media? ~ mayoritas masyarakat pasti punya. Bahkan tidak mengenal batasan usia, bayi aja banyak yang punya akun sosmed kok, meskipun tentu dikelola orang tuanya. Melihat fenomena ini bikin mikir segitu pentingnya ya sosmed di masa kini?

Friday, January 24, 2020

#MarriedLife: Pregnancy Story - Kelas Persiapan Menyusui


Beberapa waktu lalu saya mengikuti kelas persiapan menyusui. Senang sekali waktu tahu info tentang kelas ini. Maklum saja, sebagai calon ibu baru saya tentu tidak bisa berdiam diri. Harus belajar dan mencari tahu informasi sebanyak banyaknya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan ibu baru. Tidak menyia nyiakan kesempatan saya langsung saja daftar untuk ikut kelasnya. 

Tuesday, January 7, 2020

Menjadi Dewasa

Dulu jaman masih kecil saya pernah mikir kapan ya aku besar (maksudnya jadi orang dewasa) biar bisa bebas ngapa ngapain tanpa harus dilarang larang sama orang tua. Sesederhana boleh mandi hujan, keluar main sama teman sampai sore, bisa bawa kendaraan sendiri, bisa pilih baju yang sesuai keinginan sendiri, atau bisa bebas dari yang namanya ngerjain pe er. 

Thursday, January 2, 2020

#MarriedLife: Pregnancy Story - Maternity Photoshoot


Duileh udah kayak artis artis pake maternity photoshoot segala :p

Foto foto pas hamil gini tentu saja adalah ide dan keinginan saya. Tahu sendiri kan kalau pak suami nggak narsis kayak si ibu istri ini...wkwk. Beruntungnya pak suami menyetujui, kata beliau sih ~ yaaa ngikutin angen ibu hamil. Makasiii Pak :*

#MarriedLife: 3'rd Trimester - Rasanya Semakin Nano Nano


Kehamilan sudah memasuki 32 minggu, genap delapan bulan. Kemarin cek ke dokter kondisi adek bayi sehat walafiat, plasenta dan ketuban oke, dan posisi kepala sudah di bawah, dari hasil foto USG 4D wajahnya semakin terlihat jelas, bikin senyum senyum sendiri liatnya, hihi. Masyaallah Tabarakallah.