Showing posts with label Sajak-Cerita. Show all posts
Showing posts with label Sajak-Cerita. Show all posts

Sunday, May 8, 2016

Dear, Kamu

0d5146f4-a0e7-4370-804c-5fdad111569f
*sumber gambar: playbuzz.com

Ada yang bilang pertemuan itu adalah pangkal rindu. Mungkin itu benar. Karena setiap kali aku telah bertemu denganmu aku merasa semakin rindu. Rasanya waktu tidak pernah cukup untukku. Setiap pertemuan denganmu melahirkan rindu yang baru. Rinduku menjadi selalu baru, tak pernah usang.

Wednesday, April 6, 2016

Sebuah Daun Kepada Setetes Embun

***

Aku ingin mengenalmu lebih dekat, lebih jauh. Tapi hari selalu lebih pendek. Sehari dua hari tidak pernah cukup bagiku. Berapa waktu yang aku butuhkan untuk mengenalmu?, aku tidak tahu. Mungkin tidak akan pernah tahu. Bisa jadi sepanjang sisa hidupku.

***

Ada rahasia di matamu, yang sebenarnya ingin kau bagi. Tapi hari selalu lebih pendek. Kau tidak pernah sempat berkata apa-apa tentang rahasia itu. Hari selalu berakhir tiap kau bersiap membukanya.

***

Ada yang bilang, yakinlah bahwa waktu tak akan pernah cukup. Raih sekarang, sebelum sesal datang di hadapanmu. Dan aku hanya ingin kau tahu bahwa aku siap mendengarkanmu. Meskipun itu hanya sebuah lelucon konyol yang ingin kau tertawakan.

***

Hari selalu lebih pendek dari keinginanku mengenalmu lebih dekat. Tapi tak mengapa bagiku. Selama aku masih menjadi tempatmu bersandar di setiap pagi. Aku ingin mendengar ucapan selamat pagi darimu, selalu.

***

Friday, January 29, 2016

Suatu Siang di Sebuah Gedung

summer_clouds__psd__by_macsix-d6trrl1.png

Ada sunyi yang hilang ditelan suara-suara mereka yang haus ilmu, di sebuah gedung kuliah. Buku-buku seakan tidak pernah habis untuk dibaca dan seorang ahli yang berdiri di depan ruangan yang bisa ditanya kapan saja. Internet, sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia abad 21 tersedia dengan kecepatan yang membuatmu puas. Lantai bersih dan mengkilap, kursi-kursi empuk, dinding yang kokoh serta pendingin ruangan mennyertaimu. Semuanya terasa begitu hidup, mudah, dan menyenangkan.

Sunday, June 14, 2015

Ketika Malam Datang

Malam telah datang, mengetuk perlahan daun pintu, menembus ruang kamar, lalu menemaniku memikirkanmu ~~~

Malam selalu menyediakan ruang untuk memikirkanmu, memikirkan pikiranmu.

Apa yang kau harapkan dari sisa-sisa percakapan dan pertemuan yang terlalu sebentar itu?

Matamu tak memberi jawaban apapun. Semakin kuselami, semakin aku terjatuh ke dalam pertanyaan tanpa jawaban. Berharap kau memberi kata-kata lugas jawaban adalah seperti menunggu kereta api di Bandara. Sesuatu yang tidak mungkin.

Apa yang akan terjadi kemudian, aku tidak akan pernah tahu jika kau terus saja bersembunyi.

Seperti potongan sajak Aan Mansyur "Kau menggantung seperti sesuatu yang tak mampu kunamai----mimpi atau kenangan". Maka begitulah dirimu.

Sunday, November 30, 2014

Cerpen: Gadis Di Persimpangan Jalan (Bag. 3)

Kosku yang sesak karena mungil terletak di ujung jalan sebelum tikungan menuju sungai. Untuk mencapainya kau harus melewati persimpangan jalan itu. Aku belum lama pindah ke kamar kos ini. Karena alasan keterbatasan uang maka aku terpaksa menyewa kamar kos yang mungil di kawasan yang yaa dapat disebut sedikit kumuh. Letaknya yang dekat sungai membuat kawasan itu kadang banjir di musim hujan, akibat sungai yang meluap karena banyaknya sampah. Aku heran mengapa manusia begitu tidak peduli pada lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Betapa egoisnya mereka, hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan anak cucu mereka. Seenaknya saja membuang sampah di sungai. Aku menggerutu sendiri.

Gerutuanku tentang sampah di sungai yang membuat banjir terhenti karena otakku mengirim sinyal ingatan tentang gadis di persimpangan jalan yang selalu kelihat di waktu yang sama dalam beberapa hari ini. Entah mengapa sejak melihat gadis itu aku dilanda penasaran yang besar. Aku belum pernah merasa sepenasaran ini pada seseorang. Aku seperti melihat diriku dalam diri gadis itu. Seorang manusia yang penuh kegalauan karena sedang menunggu, entah menunggu seseorang atau menunggu kabar baik. Sama-sama menunggu kepastian.

Di daerah ini aku tidak memiliki teman, karena aku memang berniat menjaga jarak dengan siapapun. Aku sudah terlalu lelah untuk berurusan dengan manusia lainnya yang justru hanya ada saat kau senang. Namun setelah dua minggu selalu melihat gadis di persimpangan jalan, aku jadi ingin mengenalnya. Kuputuskan besok untuk bertemu dengannya dan menyapanya.

(bersambung)

Thursday, November 27, 2014

Cerpen: Gadis Di Persimpangan Jalan (Bag. 2)

Orang-orang biasa memanggilku gadis payung hijau karena payung hijau selalu menemaniku kemanapun. Kurasa memang hanya dia yang selalu setia didekatku. Sama seperti hari ini ketika aku menunggumu untuk kesekian kalinya, di persimpangan jalan ini. Payung hijau ini cukup membuatku tak basah kuyup di bawah hujan, setidaknya menurutku. Kau tentu tak tahu, karena tak pernah memperhatikan. Ah ya sejak kapan kau akan memperhatikan, sedang kau tak jua datang.

Kau mungkin tak menyadari betapa hati dan fisikku semakin hari semakin kuat untuk berdiri menunggumu di sini. Aku telah mempersiapkan diriku sebaik-baiknya untuk pertemuanku denganmu. Meski hujan atau terik matahari. Aku tak peduli pada tatapan orang yang menatapku iba, heran, dan takut. Mereka pasti menganggapku gila. Tapi aku tak peduli. Lagipula mengapa kau harus repot peduli pada tanggapan orang atas apa yang kau yakini. Karena rasa peduliku sudah kau sedot habis pada janjimu yang menjelma jutaan kilo watt cahaya yang membuat ruang hatiku terang benderang.

Entah sampai kapan kekuatanku bertahan untuk menunggumu. Akupun tak tahu. Mungkin sampai ibu melarangku untuk keluar rumah lagi. Kau tahu kan aku tidak akan pernah bisa menolak perintah ibu, karena aku ingin mendapatkan surga atas ridhonya. Atau mungkin sampai persimpangan jalan ini sudah tidak ada lagi. Persimpangan jalan yang akan menunjukkan aku padamu, kau padaku.

Dari jauh masih tak ada tanda-tanda kau datang. Apakah kau akan datang diantar tukang ojek atau naik bus reot yang melewati persimpangan jalan ini?, masih tak ada tanda. Jangan hawatir, aku adalah pengingat jitu. Aku bisa mengingat semua detail, apalagi tentangmu. Tentang janjimu yang membuatku menunggu di sini, di persimpangan jalan ini.

(bersambung)

Cerpen: Gadis Di Persimpangan Jalan (Bag. 1)

Sore itu langit gelap menurunkan hujan deras. Jam tangan menunjukkan baru pukul 4 sore, seharusnya langit tak segelap itu. Jalanan sepi, orang-orang sepertinya lebih memilih menikmati selimut hangat di rumah masing-masing. Berbeda denganku yang sedang kepayahan menuntun motor butut karena kehabisan bensin di tengah derasnya hujan. Akhirnya aku memutuskan berteduh di sebuah warung yang tak jauh dari persimpangan jalan yang kulewati. Aku basah kuyup dan menggigil kedinginan.

Aku memesan segelas kopi panas untuk menghangatkan badan pada ibu warung yang menurutku terlalu cerewet. Ia tak hentinya berbicara. Berbicara tentang apa saja yang terlintas di kepalanya. Mulai tentang anaknya yang nakal, tentang tetangganya yang tukang pamer, dan tidak ketinggalan tentang kenaikan BBM yang diikuti dengan kenaikan harga barang-barang sedangkan warungnya juga tak ramai. Aku hanya mendengarkan tanpa komentar, tapi ibu warung tidak peduli ia terus saja bicara. Sepertinya ia memang tidak butuh untuk dikomentari, ia hanya ingin menumpahkan isi hati tanpa harus dihakimi pendengarnya. Bukankah manusia seringkali butuh yang seperti itu.

Kopiku telah setengah. Hujan tak juga menunjukkan tanda akan berhenti. Rintiknya semakin keras saja menimpa atap asbes warung dan sanggup melunakkan tanah yang keras. Suaranya menarik perhatian karena tak ada yang seharmonis itu, pun riak gelombang yang ditimbulkannya. Namun, mataku menangkap sesuatu yang lebih menarik di persimpangan jalan, setidaknya untuk mata dan otakku.

Seorang gadis berdiri di persimpangan jalan, tidak jauh dari warung tempatku berteduh. Ia berdiri menatap persimpangan jalan yang sepi itu. Di bawah payung hijau ia berdiri, yang ternyata tak cukup melindunginya dari hujan. Hujan deras tampias mengenai bajunya membuat ia kuyup, namun ia tak menggigil. Gadis itu berpakaian rapi, memakai sebuah sepatu yang sangat pas dengan kakinya dan rambut yang digerai. Penampilannya seperti orang yang akan bertemu dengan seseorang yang telah ditunggu-tunggu. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu, aku heran. Begitu derasnya hujan turun namun ia tak beranjak satu sentipun dari tempatnya berdiri. Sepertinya ia memang telah mempersiapkan tenaganya agar kuat berdiri di sana. Apa gadis itu sudah gila, pikirku. Aku penasaran.

Ibu warung membaca pikiranku, karena mataku yang lama memperhatikan gadis itu. Gadis itu sudah lama selalu berdiri di situ, setiap sore sampai waktu magrib menjelang malam, kata ibu warung. “Mungkin dia orang gila, tak peduli pada penampilannya, sekarang kan memang banyak orang gila, mengikuti dunia yang juga sudah gila”, ibu warung menambahkan. Aku tertarik dengan kalimat ibu warung, namun sayang ia malah tidak melanjutkan bicaranya. Sinetron Serigala yang tak bermutu yang ditayangkan TV itu ternyata lebih menarik perhatiannya. Aku menarik nafas, entah untuk bagian yang mana.

Perhatian berusaha kualihkan pada kopi dalam gelas yang kadar panasnya telah menurun. Kuseruput untuk kesekian kalinya. Aku belum mau menghabiskannya karena hujan belum reda dan uangku yang tidak cukup untuk membayar dua gelas kopi. Motor bututku butuh bensin, agar aku bisa sampai di kamar kosku yang sesak. Ternyata setelah melihat gadis itu otakku tak henti berpikir tentangnya. Siapa dia? Darimana asalnya? Apa dia sedang menunggu seseorang?

(bersambung)

Sunday, November 23, 2014

Sayang....

Sayang….

Orang seperti kita ini kalau tidak punya mimpi dan cita-cita maka tidak ada lagi yang tersisa. Satu-satunya jalan adalah kau harus bermimpi, harus punya mimpi, cita-cita dan harapan. Dengan begitu kau tahu akan kemana dan kau harus memperjuangkannya. Mimpi ataupun harapan memang bukan jaminan bahwa semuanya akan berjalan mulus, namun ketika mimpi dan harapan itu ada, paling tidak kita tahu apa yang akan kita perjuangkan.

Sayang….

Percayalah tidak akan ada yang sia-sia di muka bumi ini. Apapun yang kau lakukan pasti akan ada balasannya. Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah. Ini baru permulaan, baru garis start yang kau lewati. Dalam perjalananmu masih banyak hal baru yang akan kau temui, yang akan semakin memperkaya dirimu. Kau harus bersiap.

Sayang….

Ingatlah selalu bahwa kau tidak akan pernah sendiri. Banyak orang-orang spesial yang akan selalu membersamaimu, yang akan memberikan dukungan terbaik buatmu. Jangan pernah lupa bahwa ada sang maha pemberi yang tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau hanya harus memperlihatkan perjuanganmu.

Thursday, November 13, 2014

Jika

Jika kau tengah letih dan rasanya ingin menyerah saja, maka lihatlah orang-orang yang masih berjuang. Lihatlah mereka yang masih gigih memperjuangkan mimpinya bahkan sedang semangat-semangatnya untuk memulai. Mungkin dengan begitu kobaran semangat itu dapat mengaliri dirimu juga.

Jika jalanmu tengah buntu dan rasanya seperti terjebak sendiri, maka bantulah orang-orang di sekitarmu. Lihatlah orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuanmu, bantu mereka dengan tulus. Mungkin dengan begitu kau akan menemukan jalanmu, menemukan jalan keluar atas kebuntuanmu sendiri.

Jika hati dan pikiranmu tengah kusut dan rasanya seperti tersiksa, maka ceritakanlah, ceritakanlah pada orang lain atau pada tulisan-tulisan di kertas putih. Jangan ragu untuk membaginya dengan yang lain. Mungkin dengan begitu kau akan merasakan kelegaan, merasa bahwa hatimu juga perlu berbagi.

Monday, November 10, 2014

Apa Kabar Nona?

Apa Kabar Nona?

masihkan kau risau karena rindu
masihkah kau gelisah karena janji yang belum ditunaikan

Apa Kabar Nona?

tersentakkah kau ketika ada yang bertambah tua ketika kau bertambah usia
tersentakkah kau ketika ada kedalaman kasih pada tatapan matanya

Apa Kabar Nona?

masihkah kau mengesap pahit dan manis kopi di pagi hari
masihkah kau memutar lagu yang sama berulang kali

Apa Kabar Nona?

masihkah kau melamunkan masa depan dengan lebih dulu melamunkan masa lalu
masihkah kau merangkai cerita dalam lamunan lalu menuliskannya

Apa Kabar Nona?

Saturday, November 8, 2014

Kenangan Yang Dibawa Hujan

Hujan turun selalu membawa serta kenangan, entah mengapa ia seperti punya kekuatan magis yang dapat menghidupkan waktu. Betapa banyak puisi dan sajak yang terinspirasi dari hujan, betapa banyak cerita yang ditulis dengan latar hujan. Hujan terasa begitu spesial bagi siapapun.

Begitupun bagiku. Hujan siang tadi menggeretku pada kenangan masa kecil. Ketika aku tidak perlu memikirkan hal-hal besar dalam hidup. Ketika yang ada dalam otakku hanyalah bermain. Ketika semua keinginan terasa sangat mudah diraih. Ketika dunia terasa sangat aman. Waktu itu jika hujan turun aku seperti anak-anak lainnya akan merasa sangat senang. Jika hujan turun mata kami berbinar-binar karena ketika hujan turun itu berarti aku bisa bermain air, mandi hujan. Meski harus sembunyi-sembunyi, karena biasanya orang tuaku tidak akan mengijinkan. Namun sekali waktu orang tua akan mengijinkan. Kehadiran hujan selalu membawa kesejukan, melapisi udara dengan kesegaran dan menghijaukan pekarangan. Hujan kala itu terasa ajaib di mataku, tak pernah sekalipun aku menggerutu tentang hujan.

Ketika itu, hujan terasa selalu membawa kedamaian. Tak pernah kudengar hujan yang membawa kehancuran, namun hal itu berbalik dengan keadaan hari ini. Hujan kala itu membawa serta orang-orang menjadi satu untuk bergembira, bukan untuk disumpahi. Aku ingin menjadi orang yang selalu bergembira atas datangnya hujan karena aku punya kenangan yang indah tentang hujan. Kenangan tentang masa kecil yang manis bersama orang-orang terkasih.

Hujan memang selalu berhasil menghadirkan waktu yang telah lalu dalam bingkai kenangan.

Thursday, November 6, 2014

Mari Kita Bicara

Mari Kita Bicara

mungkin ketika malam telah gelap menyisakan sinar rembulan
ketika hening menyeruak dan waktu terasa berhenti

Mari Kita Bicara

mungkin ketika ego sudah tidak merajai diri
ketika tenggang rasa telah naik tingkat

Mari Kita Bicara

mungkin ditemani secangkir teh hangat di pagi hari
ketika embun pagi telah menyegarkan pikiran

Mari Kita Bicara

Thursday, October 9, 2014

Ada rindu yang menggantung

Ada rindu yang menggantung di sudut sore, ketika matahari hendak bersiap meninggalkan langit.

Ketika kendaraan berebut saling mendahului di jalanan, saling meneriakkan klakson, tak sabaran ingin segera sampai di tempat tujuan.

Ketika satpam kampus sudah terlalu letih untuk tersenyum, seperti sudah tidak sabar untuk berganti jadwal piket dengan satpam lain, sudah rindu dengan rumah dan anak-anak.

Ketika tangan-tangan mungil menengadah di persimpangan jalan, berpakaian kumal, dengan badan yang tidak kalah kumal, dengan kulit hitam terbakar matahari.

Rindu dan letih menyatu dalam mata mereka, anak-anak itu seperti tidak punya pilihan, namun ada juga yang kegirangan ketika berada di persimpangan jalan. Hatiku seperti teriris setiap kali melihat pemandangan itu.

Ada rindu yang menggantung di mata mereka, rindu akan tempat bermain yang lebih baik dari persimpangan jalan.

Sunday, September 14, 2014

Memelihara Rindu

Kerap kali ia datang di pelataran malam

Membawa serta mimpi

Mimpi tentang istimewanya hidup setelah sah

Ia menjelma rindu

Rindu yang hanya tersampaikan di penghujung malam

Tanpa disengaja aku membiarkannya tumbuh

Lalu aku pupuk hingga suburlah ia

Aku memelihara rindu

Friday, September 12, 2014

Membayangkan Wajah Ibuk

Sepagi ini aku membayangkan wajah ibuk,
wajah ramah yang senang tersenyum

Sepagi ini ibuk pasti sudah berangkat ke sekolah untuk menunaikan tugas
bagaimana murid-muridmu ibuk? masihkah mereka mau belajar
kau pernah mengatakan kalau murid-murid sekarang sering kehilangan motivasi
mudah membangkang dan malas-malasan, berbeda sekali dengan murid-murid dahulu
hingga kau berpikir keras bagaimana mewujudkan kegiatan belajar jadi lebih menyenangkan

Sepagi ini apa kau sempat sarapan ibuk?
setelah pagi hari kau biasa menyiapkan bekal untuk bapak yang dibawanya ke kantor
kau seringkali lupa bahwa kau sendiri juga harus sarapan

Sepagi ini apakah adek masih membuatmu harus mengeraskan suara untuk menyuruhnya mandi
ketika dia lupa kalau jam sudah menunjukkan pukul tujuh karena asyik menonton spongebob
tapi ketika mendengar suaramu pasti dia akan lari terbirit-birit ke kamar mandi
dan dengan kecepatan tinggi tiba-tiba dia sudah berpakaian rapi dengan seragamnya

Sepagi ini apa kau tadi melewati jalan yang sama untuk pergi ke sekolah
maaf ibuk aku tidak bisa mengantarmu ke sekolah karena sedang tidak di rumah
maaf membiarkanmu berjalan ke sekolah walau kurang dari sepuluh menit

Sepagi ini aku hanya bisa membayangkan wajahmu
yang memakai seragam sekolah dan tersenyum.

Yakinlah

Yakinlah tidak ada jalan buntu
pasti selalu ada jalan di depan sana
kau hanya perlu melanjutkan perjalanan
tidak berhenti di tengah-tengah untuk menyerah

Yakinlah ini tidak akan sulit
tidak sesulit kau mencari jarum diantara tumpahan kopi di tengah malam gelap
tidak sesulit kau berpura-pura tidak merindukan seseorang di malam yang sunyi
tidak sesulit kau memakan buah durian yang benar-benar tidak kau sukai

Yakinlah Ia tidak akan membiarkan kau melangkah sendiri
Ia akan menemanimu, memberimu kekuatan
mungkin Ia akan sedikit mengujimu, tapi itu adalah rasa sayang
Yakinlah Ia tidak akan membiarkan kau melangkah sendiri

komposisi malam ini

Angin yang dingin

Anjing yang menggonggong

Bulan yang menyendiri

Bintang yang enggan bersinar

Rindu yang kelu

--------komposisi malam ini-------

Sunday, September 7, 2014

Setidaknya rindu itu gratis

Aku pernah bilang kan setidaknya rindu itu gratis
kau tidak perlu menerima tagihan atas beribu-ribu rindu yang ada di hatimu
tidak akan ada yang menyuruhmu untuk membayarnya kelak

maka tidak apa-apa jika setiap malam kau merindu
tidak apa-apa jika kau luapkan rindu-rindu pada puisi-puisi
kau lamunkan pada malam-malam yang sunyi
kau ceritakan pada terangnya bulan purnama
kau tuliskan pada putihnya kertas diari
kau teriakkan pada mentari pagi yang membawa hangat
dan kau bisikkan pada embun pagi yang membawa segar

tapi kau harus tahu bahwa jika hatimu merindu
maka yang paling hebat adalah ketika kau sampaikan rindu itu pada sang pemilik rindu
selipkan ia disetiap pembicaraanmu dengan sang pemilik rindu
agar semoga kelak kau dipertemukan dengan yang kau rindui
agar semoga kelak kau dipertemukan dalam muara rindu yang penuh berkah.

Jika kau cinta katakan cinta

Ajari aku untuk jujur pada diriku sendiri katamu,
Ajari aku untuk jujur tentang perasaanku, tentang apa-apa yang aku rasakan

Baiklah sayang,
ini adalah hal yang sederhana,
sesederhana kau membuat senyuman di wajahmu yang membuat orang lain ikut tersenyum

Jika kau sakit katakan sakit
Jika kau marah katakan marah
Jika kau kesal katakan kesal
Jika kau sedih katakan sedih
Jika kau senang katakan senang
dan
Jika kau cinta katakan cinta

Kau sungguh tidak perlu takut akan penolakan
setidaknya kau tidak akan mengalami rasa sesal karena tak pernanh mengungkapkan

Karena tidak ada yang pernah salah dalam mengungkapkan perasaan sendiri
kejujuran akan membawamu pada kedamaian.

Friday, September 5, 2014

ingin aku sampaikan dengan sederhana

ingin aku sampaikan dengan sederhana
bahwa setiap orang melakukan kesalahan
yang harus kau lakukan adalah menegnali kesalahanmu dan tidak mengulanginya lagi

setiap orang melakukan kesalahan
entah itu ia sengaja atau tidak
tak terkecuali orang-orang dewasa di sekitarmu

kadang orang dewasa bertindak hanya menurut pikiran mereka
menurut apa yang baik di mata mereka
hingga lupa kalau orang lain bukan mereka

kadang orang dewasa selalu memperlakukan anak-anak di sekitarnya tak seperti seharusnya
kadang muncul bentakan-bentakan, kata-kata kasar sampai dengan pukulan
tanpa ingat bukankah mereka dulu juga pernah jadi anak-anak?
mengapa tega memukul anak-anak

kadang orang dewasa memaksakan kehendaknya
menaruh beban di pundak anak-anak, beban yang tidak bisa mereka capai sendiri
tanpa ingin tahu bahwa anak-anak punya cita-citanya sendiri

kadang orang dewasa mengungkapkan kalimat-kalimat yang membuatmu patah
membuatmu merasa tidak berarti, membanding-bandingkan dirimu
tanpa mengerti bahwa kau adalah sesuatu yang spesial di dunia ini

Maka kelak jika kau telah dewasa, telah jadi orangtua
menjadi orang yang dikelilingi anak-anak
jangan pernah ulangi kesalahan itu
jangan pernah ulangi kesalahan yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarmu
terima bahwa setiap anak manusia mempunyai kelebihannya masing-masing
tugasmulah untuk membantu mereka menemukannya

inilah yang ingin aku sampaikan dengan sederhana.