Hujan turun selalu membawa serta kenangan, entah mengapa ia seperti punya kekuatan magis yang dapat menghidupkan waktu. Betapa banyak puisi dan sajak yang terinspirasi dari hujan, betapa banyak cerita yang ditulis dengan latar hujan. Hujan terasa begitu spesial bagi siapapun.
Begitupun bagiku. Hujan siang tadi menggeretku pada kenangan masa kecil. Ketika aku tidak perlu memikirkan hal-hal besar dalam hidup. Ketika yang ada dalam otakku hanyalah bermain. Ketika semua keinginan terasa sangat mudah diraih. Ketika dunia terasa sangat aman. Waktu itu jika hujan turun aku seperti anak-anak lainnya akan merasa sangat senang. Jika hujan turun mata kami berbinar-binar karena ketika hujan turun itu berarti aku bisa bermain air, mandi hujan. Meski harus sembunyi-sembunyi, karena biasanya orang tuaku tidak akan mengijinkan. Namun sekali waktu orang tua akan mengijinkan. Kehadiran hujan selalu membawa kesejukan, melapisi udara dengan kesegaran dan menghijaukan pekarangan. Hujan kala itu terasa ajaib di mataku, tak pernah sekalipun aku menggerutu tentang hujan.
Ketika itu, hujan terasa selalu membawa kedamaian. Tak pernah kudengar hujan yang membawa kehancuran, namun hal itu berbalik dengan keadaan hari ini. Hujan kala itu membawa serta orang-orang menjadi satu untuk bergembira, bukan untuk disumpahi. Aku ingin menjadi orang yang selalu bergembira atas datangnya hujan karena aku punya kenangan yang indah tentang hujan. Kenangan tentang masa kecil yang manis bersama orang-orang terkasih.
Hujan memang selalu berhasil menghadirkan waktu yang telah lalu dalam bingkai kenangan.
Showing posts with label Hujan. Show all posts
Showing posts with label Hujan. Show all posts
Saturday, November 8, 2014
Wednesday, January 8, 2014
Bogor: IPB, Kebun Raya dan Hujan
Bisa dikatakan kalau ini adalah late post, karena sudah kejadian seminggu yang lalu. Tapi enggak apa-apa kan, mohon dimaafkan …hehehe
Liburan akhir tahun lalu aku berkesempatan mengunjungi kota ini, Bogor. Sebelumnya tidak terbayangkan akan berkunjung kesana, namun karena ada kesempatan maka tidak aku sia-siakan.
Dari Jogja aku mencapai Bogor dengan kereta api, yang disambung dengan commuter line sampai stasiun Bogor, beruntung waktu itu hari libur dan masih pagi jadi commuter linenya tidak seramai pada jam kerja. Kamu hanya perlu membayar 4000 rupiah dan uang jaminan kartu 5000 rupiah untuk menikmati commuter line, dan distasiun tujuan kamu dapat menukarkan kartu jaminan dan uang jaminan kembali :D
Sampai di stasiun Bogor…..jeng….jeng…, yang aku lihat di depan stasiun berderet angkot-angkot berwarna hijau, yang menunggu penumpang. Menurutku ini sedikit luar biasa, sebelumnya aku tidak pernah melihat angkot berederet-deret begitu, kecuali di TV. Di kota domisiliku yang sekarang, Jogja, transportasi masa seperti angkot tidak ada. Masyarakat Bogor menjadi lebih mandiri dengan difasilitasi angkot sebagai alat transportasi mereka. Ongkos naik angkotnyapun termasuk murah.
Destinasi pertama yang ingin aku kunjungi di kota ini adalah kampusnya, yang jadi ikon Bogor, yap IPB. Entah mengapa jika mengunjungi suatu kota yang memiliki kampus yang terkenal, pertama kali aku pasti ingin berkunjung ke kampusnya. Ada yang bilang bahwa jika kamu mengunjungi suatu tempat maka pertama-tama kunjungilah masjid dan perpustakaannya. Maka itu juga yang aku lakukan, Alhamdulillah aku berkesempatan sholat di masjid IPB, yang sebelumnya hanya pernah mendengar namanya. Namun sayang sekali aku tidak mengunjungi perpustakaannya. IPB asri, kampus yang rindang dan hijau banyak tanaman disana yang akan membuatmu sejuk memandangnya. Mungkin karena huruf “P” –nya itu yang membuat ia memiliki banyak tanaman ….
Ikon kedua kota ini tentu saja Kebun Raya nya, yang ternyata memang “Raya”, kau butuh banyak waktu untuk berkeliling, mengelilingi setiap sudutnya dan mempelajari beraneka rupa tanaman yang ada disana.
Tidak sah rasanya ke Bogor tanpa ada hujan. Tiba-tiba hujan turun mengiringi kepergianku menuju tujuan selanjutnya. Benar katanya, hujan pasti akan turun dan hujan di Bogor itu beda, karena aku merasakan hujan di Bogor jatuh dengan penuh semangat dengan bulir-bulirnya yang bisa dikatakan tak biasa. Hujan di Bogor waktu itu seakan memperjelas bahwa Bogor memang kota Hujan.
Sampai bertemu Bogor
Liburan akhir tahun lalu aku berkesempatan mengunjungi kota ini, Bogor. Sebelumnya tidak terbayangkan akan berkunjung kesana, namun karena ada kesempatan maka tidak aku sia-siakan.
Dari Jogja aku mencapai Bogor dengan kereta api, yang disambung dengan commuter line sampai stasiun Bogor, beruntung waktu itu hari libur dan masih pagi jadi commuter linenya tidak seramai pada jam kerja. Kamu hanya perlu membayar 4000 rupiah dan uang jaminan kartu 5000 rupiah untuk menikmati commuter line, dan distasiun tujuan kamu dapat menukarkan kartu jaminan dan uang jaminan kembali :D
Sampai di stasiun Bogor…..jeng….jeng…, yang aku lihat di depan stasiun berderet angkot-angkot berwarna hijau, yang menunggu penumpang. Menurutku ini sedikit luar biasa, sebelumnya aku tidak pernah melihat angkot berederet-deret begitu, kecuali di TV. Di kota domisiliku yang sekarang, Jogja, transportasi masa seperti angkot tidak ada. Masyarakat Bogor menjadi lebih mandiri dengan difasilitasi angkot sebagai alat transportasi mereka. Ongkos naik angkotnyapun termasuk murah.
Destinasi pertama yang ingin aku kunjungi di kota ini adalah kampusnya, yang jadi ikon Bogor, yap IPB. Entah mengapa jika mengunjungi suatu kota yang memiliki kampus yang terkenal, pertama kali aku pasti ingin berkunjung ke kampusnya. Ada yang bilang bahwa jika kamu mengunjungi suatu tempat maka pertama-tama kunjungilah masjid dan perpustakaannya. Maka itu juga yang aku lakukan, Alhamdulillah aku berkesempatan sholat di masjid IPB, yang sebelumnya hanya pernah mendengar namanya. Namun sayang sekali aku tidak mengunjungi perpustakaannya. IPB asri, kampus yang rindang dan hijau banyak tanaman disana yang akan membuatmu sejuk memandangnya. Mungkin karena huruf “P” –nya itu yang membuat ia memiliki banyak tanaman ….
Ikon kedua kota ini tentu saja Kebun Raya nya, yang ternyata memang “Raya”, kau butuh banyak waktu untuk berkeliling, mengelilingi setiap sudutnya dan mempelajari beraneka rupa tanaman yang ada disana.
Tidak sah rasanya ke Bogor tanpa ada hujan. Tiba-tiba hujan turun mengiringi kepergianku menuju tujuan selanjutnya. Benar katanya, hujan pasti akan turun dan hujan di Bogor itu beda, karena aku merasakan hujan di Bogor jatuh dengan penuh semangat dengan bulir-bulirnya yang bisa dikatakan tak biasa. Hujan di Bogor waktu itu seakan memperjelas bahwa Bogor memang kota Hujan.
Sampai bertemu Bogor
Monday, November 25, 2013
Sajak Tentang Kamu #2
Hari ini kamu apa kabar?
Aaaah…..mungkin ini pertanyaan basi, selalu ini saja yang kutanyakan. Anggap saja ini pertanyaan pembukaku, karena sebenarnya banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu.
Apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Apa yang ada di dalam kepalamu itu?
Maukah kau menceritakannya padaku. Sungguh aku sangat penasaran ingin tahu.
Aku hanya takut doa-doa kita tak lagi dipertemukan di langit sana. Doa-doa kita tak lagi bersambut. Dan pada akhirnya kita terseret, terpisah jarak yang semakin lebar dan berakhir menjadi orang asing.
Aaaah…..mungkin ini pertanyaan basi, selalu ini saja yang kutanyakan. Anggap saja ini pertanyaan pembukaku, karena sebenarnya banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu.
Apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Apa yang ada di dalam kepalamu itu?
Maukah kau menceritakannya padaku. Sungguh aku sangat penasaran ingin tahu.
Aku hanya takut doa-doa kita tak lagi dipertemukan di langit sana. Doa-doa kita tak lagi bersambut. Dan pada akhirnya kita terseret, terpisah jarak yang semakin lebar dan berakhir menjadi orang asing.
Tuesday, November 19, 2013
hujan & rindu
~~~seperti Hujan yang tiba-tiba luruh membawa gaduh,
ingatan tentangmu melebur jatuh,
dan terkubur dalam Rindu ~~~
ingatan tentangmu melebur jatuh,
dan terkubur dalam Rindu ~~~
Sajak Tentang Kamu
Apa kabar kamu hari ini? aku harap kau baik-baik saja, sudah lama rasanya kita tidak bersua, telah lama rasanya kita tidak saling berbicara, berbicara tentang kamu, tentang aku, tentang mereka.
Pagi ini kotaku didatangi tamu spesial yang datang bergerombolan, Hujan. Tapi ternyata ia memang tidak benar-benar sendiri, ia juga datang membawa dingin. Dingin yang rasanya sampai ke tulang-tulang. Aku sampai harus memakai jaket tebal untuk menghangatkan tubuh. Entah mengapa hujan begitu akrab dengan dingin, tapi tidak dengan matahari. Aku sedikit marah dengan hujan karena ketika ia datang, matahari selalu menghilang.
Apa hujan juga datang ke kotamu?
Apa kita kedatangan hujan yang sama?
Kalau ia berarti ia seharusnya sudah menyampaikan salamku padamu. Salam rindu, rindu yang telah mengkristal bersama bulir-bulir hujan. Sebenarnya kau pasti tahu aku tidak akan pernah sanggup menyampaikannya sendiri padamu. Aku terlampau malu. Jadi aku memilih menitipkannya pada hujan.
Tapi sepertinya hujan tak menyampaikannya padamu, ya?
Pagi ini kotaku didatangi tamu spesial yang datang bergerombolan, Hujan. Tapi ternyata ia memang tidak benar-benar sendiri, ia juga datang membawa dingin. Dingin yang rasanya sampai ke tulang-tulang. Aku sampai harus memakai jaket tebal untuk menghangatkan tubuh. Entah mengapa hujan begitu akrab dengan dingin, tapi tidak dengan matahari. Aku sedikit marah dengan hujan karena ketika ia datang, matahari selalu menghilang.
Apa hujan juga datang ke kotamu?
Apa kita kedatangan hujan yang sama?
Kalau ia berarti ia seharusnya sudah menyampaikan salamku padamu. Salam rindu, rindu yang telah mengkristal bersama bulir-bulir hujan. Sebenarnya kau pasti tahu aku tidak akan pernah sanggup menyampaikannya sendiri padamu. Aku terlampau malu. Jadi aku memilih menitipkannya pada hujan.
Tapi sepertinya hujan tak menyampaikannya padamu, ya?
Subscribe to:
Posts (Atom)