Friday, August 29, 2014
Suatu siang di Bandara
Aku duduk di kursi tunggu sebelum chek-in sambil memperhatikan orang-orang di Bandara. Bandara waktu itu ramai sekali, orang-orang berlalu lalang dan orang-orang yang mengobrol, para petugas yang menyapa ramah dan para pekerja yang menawarkan jasa.
Tidak sulit untuk melihatmu dari kejauhan, yang datang dari arah tempat parkir. Walau mataku yang kini silinder, yang ketika melihat sesuatu di kejauhan selalu buram, tapi aku tetap bisa mengenalimu. Dengan posturmu yang tinggi itu dan masa aku mengenalmu yang sudah bertahun-tahun aku bisa mengenalimu.
Kemudian mengobrollah kita, disela-sela waktu menunggu. Entah berawal darimana, percakapanpun mengalir. Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu jadi banyak sekali cerita yang tersampaikan. Aku merasa seperti diri sendiri yang bercerita dengan bebasnya dan kau yang duduk mendengarkan, sesekali kita berdebat tentang sesuatu yang akhirnya membuat kita tertawa.
Kau menyelipkan sebuah buku. Kau bilang buku itu bagus, cerita tentang Jogja dan Bandung. Selain itu kau tidak berkata-kata apapun tentang buku itu. Namun setelah membukanya aku tahu ada misi dalam buku itu. Baru membaca sinopsis buku itu saja aku tahu maksudmu.
Siang itu di Bandara, ada yang tersenyum lebar karena sebuah pertemuan dan cerita.
Wednesday, August 27, 2014
Aku memilih
Aku memilih tuk menapaki jalan bersamamu.
Aku memilih tuk berbagi cerita bersamamu.
Aku memilih tuk menggenapkannya bersamamu
Aku memilih.
Tuesday, November 19, 2013
Sajak Tentang Kamu
Pagi ini kotaku didatangi tamu spesial yang datang bergerombolan, Hujan. Tapi ternyata ia memang tidak benar-benar sendiri, ia juga datang membawa dingin. Dingin yang rasanya sampai ke tulang-tulang. Aku sampai harus memakai jaket tebal untuk menghangatkan tubuh. Entah mengapa hujan begitu akrab dengan dingin, tapi tidak dengan matahari. Aku sedikit marah dengan hujan karena ketika ia datang, matahari selalu menghilang.
Apa hujan juga datang ke kotamu?
Apa kita kedatangan hujan yang sama?
Kalau ia berarti ia seharusnya sudah menyampaikan salamku padamu. Salam rindu, rindu yang telah mengkristal bersama bulir-bulir hujan. Sebenarnya kau pasti tahu aku tidak akan pernah sanggup menyampaikannya sendiri padamu. Aku terlampau malu. Jadi aku memilih menitipkannya pada hujan.
Tapi sepertinya hujan tak menyampaikannya padamu, ya?
Thursday, April 11, 2013
Just My Memory
1. Apa kau masih ingat ketika jarak terasa begitu dekat?
2. Kamu selalu memanggilku jelek karena dulu tidak mau dipanggil bau #yang kau sebut dengan bahasa daerahmu itu #maaf aku lupa, haha
3. Aku selalu suka melihatmu menggunakan benda di matamu itu, kau kelihatan lebih pintar, tapi aku rasa kau memang pintar
4. Mungkin tinggimu sama dengan laki-laki terbaik di rumahku, jelas kau lebih tinggi dariku
5. Aku suka mendengar logat bicaramu itu
6. Aku penasaran dengan tempat tinggalmu yang katanya sangat indah, mungkinkah seindah tempat tinggalku?
7. Darimu aku belajar untuk terus menyibukkan diri untuk memperbaiki diri #inget kamu yang workholic banget
8. Sepertinya kau sedikit pelupa
9. Kau akan selalu ada dalam ceritaku, entah sampai kapan...
10. Apa kau akan menyerah?