Sejak membaca berita soal film Toy Story 5 akan segera tayang, saya sudah excited, langsung share beritanya ke Pak Suami dengan tambahan pesan "besok kita nonton ini ya sama anak anak". Terakhir kami berdua nonton Toy Story 4 di bioskop, dimana saat itu anak anak belum lahir. Kini anak anak sudah di usia yang cukup untuk diajakin nonton ke bioskop. Ini menjadi pengalaman ketiga mereka nonton, setelah sebelumnya menonton Zootopia dan Na Willa. Sebagai milenial yang mengikuti perjalanan Woody dan teman temannya, ada rasa antusias yang berbeda. Penasaran kali ini mereka ngapain lagi, bagaimana kabar mereka sekarang. Akhirnya bisa cerita tentang woody dan teman-temannya ke anak anak, dan mereka bisa lihat langsung di layar.
Toy Story dan Perjalanan Waktu
Jika dipikir-pikir, Toy Story sebenarnya selalu bercerita tentang waktu dan perubahan. Di balik petualangan Woody, Jessie, Buzz, dan teman temannya yang lain, ada kisah tentang bagaimana dunia terus bergerak dan setiap orang harus belajar beradaptasi. Di Toy Story 1, kita melihat dari sudut pandang Andy, seorang anak yang menghabiskan hari harinya dengan berimajinasi bersama mainan kesayangannya. Saat itu, bermain dengan mainan fisik masih menjadi bagian besar dari masa kecil banyak anak. Kemudian waktu berjalan, Andy tumbuh besar dan minatnya berubah. Pada akhirnya Andy harus melepaskan mainan-mainan yang selama ini menemaninya. Momen perpisahan menjadi salah satu tema paling kuat dalam seri toy Story, bahwa tidak ada yang benar benar tetap.
Ketika mainan mainan itu berpindah ke Bonnie, Toy Story kembali menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki cara bermain yang berbeda. Bonnie membawa energi baru, imajinasi baru, dan hubungan yang berbeda dengan mainan mainanya. Dunia berubah, tetapi kebutuhan anak untuk bermain, berkreasi, dan bercerita tetap sama.
Kini, melalui Toy Story 5, perubahan itu terasa semakin dekat dengan kehidupan kita sehari hari. Anak anak masa kini tumbuh dengan teknologi yang hadir hampir di setiap aspek kehidupan. Gadget, aplikasi, dan layar menjadi bagian dari keseharian mereka. Toy Story 5 menangkap kenyataan tersebut dengan cara yang relevan, menunjukkan bagaimana mainan tradisional menemukan tempatnya di tengah dunia yang serba digital. Yang membuat seri ini terasa istimewa adalah kemampuannya merekam perubahan zaman tanpa kehilangan pesan utamanya. Dari masa Andy hingga era Bonnie yang mulai mengenal gadget, Toy Story terus mengingatkan bahwa waktu akan terus berjalan, tren akan berganti, dan cara anak anak bermain akan berubah. Namun di balik semua perubahan itu, ada hal hal yang tetap penting yaitu imajinasi, rasa ingin tahu, persahabatan, dan pengalaman nyata yang membantu anak anak memahamai dunia.
Baca Juga: Pengalaman Berharga Nonton Na Willa Bareng Anak
Bagian yang paling mengena bagi saya di Toy Story 5 adalah pengingat bahwa setiap mainan ada masanya. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi kalau dipikirkan lebih dalam sebenarnya bukan hanya tentang mainan. Ini juga tentang fase fase kehidupan yang terus berganti....aaaaak monangis. Sebagai orang tua saya melihat sendiri bagaimana anak anak begitu mencintai suatu benda atau aktivitas pada satu waktu, lalu perlahan meninggalkannya ketika mereka menemukan minat yang baru. Meski itu adalah pertanda bagus bahwa itu artinya mereka berkembang dan bertumbuh, kadang ada rasa sedih yang sulit dijelaskan. Mungkin karena saya sadar bahwa waktu benar benar berjalan, yang kadang saya rasa bergerak terlalu cepat. Tiba tiba saja anak anak sudah lebih mandiri, memiliki kesukaan sendiri dan tidak membutuhkan saya dengan cara yang sama seperti dulu.
Karena itulah, kisah mainan mainan yang ada di Toy Story terasa begitu dekat. Ketakutan mereka untuk dilupakan sebenarnya mencerminkan perasaan yang sangat manusiawi; keinginan untuk tetap berarti dalam hidup seseorang. Ketika melihat anak anak tumbuh, saya menyadari bahwa tugas saya bukanlah menghentikan perubahan, melainkan menikmati setiap fase yang sedang berlangsung sebelum akhirnya menjadi kenangan. Setelah di usia sekarang ditambah kehadiran anak anak membuat saya merasa film ini terasa emosional. Bukan karena sedang melihat mainan yang menghadapi perubahan, melainkan karena saya melihat diri saya sendiri di dalamnya. Belajar menerima bahwa tumbuh besar, melepaskan, dan melangkah ke fase berikutnya adalah bagian dari kehidupan.....cryiiiiing.
Setelah menonton Toy Story 5 anak anak cerewet membahas tokoh tokohnya. Kakak Adek menyebutkan mainan favoritenya, Kakak suka Jessie, dan Adek semakin ngefans sama Buzz. Sebelumnya adek punya baju bergambar Buzz, jadi ketika dia lihat Buzz di layar dia semakin terpesona haha. Kakak juga sempat menangis ketika melihat scene Bonnie yang pura pura tegar melepas mainanya, huhu. Meski saya merasa Toy Story 4 menjadi film yang paling menguras air mata saya karena perpisahan Woody tapi Toy Story 5 memberikan refleksi yang sangat relevan dengan keluarga masa kini.
Saya rasa menonton film bersama anak anak menjadi salah satu aktifitas favorite saya karena memberikan kehangatan tersendiri. Duduk berdampingan di dalam bioskop, tertawa atau sedih di momen yang sama, dan sesekali saling lirik ketika adegan tertentu muncul. Bukan hanya tentang filmnya, tetapi tentang kebersamaan yang tercipta di tengah kesibukan sehari hari, apalagi sebagai pasangan yang LDM. Momen kecil seperti ini mengingatkan saya bahwa waktu bersama keluarga adalah hal yang paling mudah berlalu, tetapi justru paling lama tinggal dalam ingatan.
Hari itu, saya pulang dengan satu pengingat sederhana bahwa anak anak memang perlu teknologi, tetapi mereka juga perlu bermain, berlari, berkreasi, berimajinasi, tertawa bersama teman, dan menciptakan kenangan di dunia yang nyata.

No comments:
Post a Comment