Thursday, April 16, 2026

Lebih Dari Sekadar Film: Pengalaman Berharga Nonton Na Willa Bareng Anak Anak

Cuplikan Film Na Willa, Adaptasi Buku Karya Reda Gaudiamo (Youtube/Visinema Pictures)

Salah satu kegiatan yang kami lakukan untuk mengisi libur lebaran kemarin adalah menonton film di bioskop. Ini adalah pengalaman kedua Kakak dan Adek menonton film di bioskop setelah sebelumnya menonton Zootopia 2. Kali ini, pilihan kami jatuh pada Na Willa. Kami memilih menonton di bioskop CGV Transmart Mataram karena menyesuaikan jadwal. Saya pikir bioskop ini akan sepi tapi ternyata banyak juga yang memilih mengisi waktu libur lebaran dengan menonton film. Memilih film Na Willa tentu saja karena film anak anak, berdasarkan review aman untuk anak anak. Meski belum membaca bukunya kali ini saya mau menonton filmnya terlebih dahulu karena sebelumnya saya adalah kebalikannya. Pada awalnya, saya mengira ini hanya akan menjadi aktivitas hiburan biasa. Ternyata, pengalaman ini jauh lebih dalam dari yang saya bayangkan.

Melihat Dunia dari Sudut Pandang Anak

Salah satu hal yang paling terasa dari film ini adalah bagaimana cerita disajikan dari sudut pandang anak-anak. Dengan latar Surabaya tahun 1960-an dan tokoh utama anak perempuan usia sekitar 6 tahun (seusia Kakak), film ini membawa saya “masuk” ke dunia mereka—dunia yang sederhana, jujur, dan penuh rasa ingin tahu. Sebagai orang tua, saya jadi diingatkan bahwa cara anak memandang dunia sangat berbeda dengan kita. Hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele, bisa menjadi sesuatu yang sangat besar dan bermakna bagi mereka.

Pak suami merasa relate dengan latar belakangnya "Surabaya, daerah Krembangan" yang dekat dengan kosannya.

Tentang Kekhawatiran Orang Tua

Ada satu bagian yang sangat relate dengan saya: sosok Mak dan Pak Na Willa yang menjalani hubungan jarak jauh (LDM). Kekhawatiran dan overthinking yang kerap kali menghampiri. Lalu juga perasaan takut takut melepas anak untuk sekolah terasa begitu nyata. Sebagai orang tua, kita sering terjebak dalam rasa ingin melindungi yang berlebihan. Film ini seperti mengingatkan saya bahwa rasa khawatir itu wajar, tapi tidak boleh sampai menghambat anak untuk tumbuh.

Mak merasa bisa ngajarin Willa sendiri di rumah, dia menganggap Willa belum butuh sekolah, sekolah belum penting. Tapi ternyata sekolah bukan hanya tentang belajar menulis dan membaca tapi juga tentang interaksi dengan teman sebaya yang lebih beragam. Sekolah bisa melatih kemampuan anak untuk bersosialisasi, kerjasama tim dan jadi lebih terbuka dengan llingkungan. 

Saya pun merasakan ini dulu, ketika melepas Kakak ke sekolah masuk kelompok bermain A di usia 2,5 tahun dan Adek masuk daycare di usia 1,2 tahun. Tapi ternyata mereka mampu melewatinya, jauh di atas ekspektasi saya. Tidak pernah ogah ogahan sekolah dan ketika dijemput pulang mereka happy. 

Pelajaran-Pelajaran Sederhana yang Dalam

Film ini menyelipkan banyak pelajaran berharga dengan cara yang ringan dan mudah dipahami anak-anak:

  • Tentang kejujuran, bagaimana berbohong bisa membawa konsekuensi yang tidak sederhana. 

  • Tentang proses tumbuh, melalui metafora ulat yang berubah menjadi kepompong, lalu menjadi kupu-kupu. Sebuah pengingat bahwa setiap anak punya prosesnya masing-masing.

  • Tentang cinta orang tua, mencintai anak bukan hanya melindungi, tapi juga memberi ruang untuk merasakan senang dan sulit.

  • Tentang toleransi, belajar memahami perbedaan sejak dini. Meski Na Willa memiliki perbedaan dengan teman temannya, hal tersebut tidak melunturkan kedekatan mereka. Malah lucu banget Na Willa ikut ikutan ngaji dan sholat ke TPA haha. Pertemanan di antara anak anak itu memang sepolos itu ya.

  • Tentang kesederhanaan, mengalihkan rasa bosan dengan hal-hal sederhana yang ternyata justru menyenangkan.

  • Tentang makanan alami, tanpa disadari, film ini juga menunjukkan pola makan yang jauh dari makanan ultra-proses (UPF), sesuatu yang saya junjung setelah punya anak saat ini.

Pelajaran pelajaran ini saya bahas dengan anak anak setelah menonton, dan mereka bisa sambil mengingat adegan di film, bisa diajak diskusi dan jadi lebih paham. Merekapun jadi banyak bertanya, momen belajar banget ketika diskusi dengan anak anak. Meski usia mereka masih muda tapi saya meyakini bahwa mereka bisa menerima penjelasan dengan baik. 

Reaksi Anak-Anak: Bukti Nyata

Yang paling membahagiakan tentu melihat reaksi anak-anak saya. Mereka sangat menikmati filmnya. Menggugah perasaan anak anak, kakak bahkan ikut menangis sedih waktu Na Willa nangisin Dul waktu kecelakaan. Bukan hanya itu, bahkan sampai hari ini, mereka masih menyanyikan lagu-lagu dari film Na Willa. Si Kakak bahkan hafal full lirik lagunya, Ibu sampai bosan mendengar lagu ini di mobil ~ toloooooong. Selain itu, Kakak nanya "ibu Na Willa beneran ada di Surabaya? aku mau ketemu Na Willa? ..... tentu saja saya ceritakan kalau Na Willa adalah Ibu Reda si tokoh asli dan penulis buku Na Willa. 

Bagi saya, ini adalah tanda bahwa film ini tidak hanya menghibur, tapi juga meninggalkan kesan yang kuat di hati mereka.

Lebih dari Sekadar Hiburan

Pengalaman menonton Na Willa ini menjadi pengingat penting bagi saya sebagai orang tua: bahwa waktu bersama anak, bahkan dari hal sederhana seperti menonton film, bisa menjadi momen belajar yang sangat berharga. Film ini bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang tua—untuk belajar memahami, melepaskan, dan mendampingi proses tumbuh mereka dengan lebih bijak. Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari mencintai anak: bukan sekadar menjaga mereka tetap dekat, tapi memberi mereka ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.

Cekrek dulu sebelum nonton :))

Kalau boleh jujur, saya tidak menyangka pengalaman menonton film kedua anak saya di bioskop bisa memberikan refleksi sedalam ini. Dan saya rasa, ini bukan akan menjadi yang terakhir.

No comments:

Post a Comment