Hari ini hari minggu, saya memilih di rumah saja untuk beres beres, rapi rapi barang di rumah, mengurus pakaian, foodprep sampai nyapu ngepel. Domestic things, beres. Di akhir saya bilang capek sama anak anak, lalu waktu sholat magrib saya duduk agak lama di atas sajadah. Merenung sesaat tanpa berkata apa apa. Padahal tentu saja anak anak ada di sekitar saya sholat. Adek bahkan sengaja menggoda saya, mengajak bermain. Tapi saya cuma tersenyum.
Di momen itu, tiba tiba kakak membuka obrolan dengan bilang "aku nggak mau jadi besar/dewasa, aku maunya jadi anak anak terus selamanya". Mendengar dia mengatakan itu saya menimpali dengan pertanyaan "kenapa emangnya kak?". Kemudian dijawab oleh kakak, "iyaa soalnya kalau jadi orang dewasa itu pasti capek, kayak ibu. Ibu beres beres, ngurus anak, nyapu masak. Aku mau jadi anak anak aja biar tinggal diurusin". Dia berbicara panjang lebar dan menyebut pekerjaan pekerjaan domestik yang saya kerjakan hari ini. Hati saya degh mendengar dia bilang begitu, ternyata dia memperhatikan saya dan seolah olah merasakan apa yang saya rasakan. Tidak heran karena si kakak ini memang sangat perasa anaknya.
Hal yang membuat hati saya langsung nyes adalah karena saya agak khawatir kalau dia punya pikiran kalau jadi perempuan/ibu kerjaannya cuma mengurus pekerjaan domestik di rumah. Tentu sebagai seorang Ibu saya ingin anak perempuan saya bisa punya pandangan yang lebih luas dan lebih dalam tentang sesuatu. Dan karena kondisi orang tuanya yang LDM ini memang menimbulkan kondisi yang tidak ideal, dimana Ibunya yang berperan mengurus lebih banyak hal di rumah. Jadi saya rasa harus memberikan penjelasan dan pandangan pada anak anak. Setidaknya buat si kakak yang sudah berusia enam tahun, kalau adek masih belum terlalu paham.
Akhirnya saya menjawab kakak dengan bilang, "iya ibu lagi capek, dan itu normal, tapi ibu juga suka punya kakak dan adek, anak anak ibu yang cantik ganteng pinter ini, ibu juga suka kerja ke kampus dan bisa jajan sesukanya" ~ nyengir lebar dia, lalu saya melanjutkan dengan bilang "iya begitulah jadi dewasa itu, harus bertanggung jawab, lagian kalau beres beres mah kemampuan dasar manusia kak, kita kan ada kalanya capek, senang, sedih, marah, kesal dan itu membuat kita utuh, kalau bapak pulang kan giliran kak beres beresnya". Setelah itu, kakak tidak menjawab apa apa, dia hanya mendekati saya lalu memeluk dan mencium saya, dengan itu saya mengambil kesimpulan kalau dia paham apa yang saya sampaikan. Matanya menyorotkan kasih sayang.
Syukurnya kami di rumah terbiasa mengatakan apa yang sedang kami rasakan, anak anak saya juga biasa mengatakan kalau lagi kesal, sedih, marah, kalau lagi senang sih kelihatan banget ya pasti senyum senyum atau tertawa riang. Yang jelas, rumah bersih dan beres membuat saya merasa lebih siap menghadapi satu minggu ke depan. Semoga lancar ya!
.jpg)
No comments:
Post a Comment