Isu soal daycare tiba tiba muncul akhir-akhir ini, menjadi headline di banyak media, terlebih media sosial. Saya penasaran membaca beritanya, membaca kronologinya, sampai pada ketika memutar video penggrebekan saya tidak sanggup, secepat kilat saya tutup. Air mata tiba tiba mengalir, dada terasa sesak, sakit sekali. Nangis banget membayangkan kondisi, perasaan dari anak anak yang masih polos itu, anak anak yang belum paham banyak hal. Saya yang seorang ibu ini bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tua anak anak tersebut. Isu ini sangat relatable dengan saya. Saya juga bekerja dan menitipkan anak ke daycare.
Jujur, ini bukanlah hal mudah. Dulu sebelum menitipkan adek di daycare saya dan Pak Suami melewati obrolan panjang lebar. Pak Suami yang pada saat itu tidak setuju dengan opsi daycare, sedangkan saya sudah tidak sanggup menghadapi drama pengasuh yang rumit. Setelah mengecek beberapa pilihan daycare yang ada di Mataram dan melihat situasi dan kondisi maka terplihlah daycare adek yang sekarang. Cerita soal pemilihan daycare ini juga sudah pernah saya ceritakan sebelumnya di sini.
Ingatan saya flashback ke momen pertama kali melepas adek ke daycare, diusianya yang baru satu tahun dua bulan. Tangannya menggenggam erat baju saya, tidak mau lepas dari gendongan, lalu menangis ketika saya berdiri untuk pergi. Ada rasanya ingin membatalkan semuanya, memeluknya lagi, menggendong dan pulang ke rumah. "Apa ijin aja kali ya, nggak usah masuk kampus" pikir saya.
Tapi hidup tidak selalu memberi pilihan yang ideal. Kadang yang tersedia hanyalah pilihan yang paling realistis. Dan bagi banyak ibu bekerja, termasuk saya, daycare adalah salah satu bentuk realistis itu.
Saya memilih daycare bukan sekadar karena “ada yang menjaga anak”. Saya memilih karena berharap anak saya mendapatkan stimulasi, interaksi, rutinitas, dan pengasuhan yang cukup baik ketika saya harus bekerja. Terlebih lagi, mencari pengasuh atau ART yang cocok sekarang bukan perkara mudah. Bukan hanya soal biaya, tapi juga soal kecocokan, kepercayaan, dan keberlanjutan.
Jujur saja, saya tidak pernah terlalu tertekan oleh komentar sosial soal keputusan menjadi ibu bekerja. Mungkin karena pada dasarnya saya memang tidak terlalu peduli dengan penilaian orang. Saya tahu hidup saya dijalani oleh saya sendiri, bukan oleh mereka yang sibuk berkomentar. Prinsip saya asalkan support system ring satu saya baik baik saja maka saya akan go on.
Tapi belakangan ini, membaca berita tentang kasus "daycare itu" membuat hati saya benar-benar marah sekaligus sedih.
Karena ketika seorang ibu menitipkan anaknya di daycare, yang dititipkan sebenarnya bukan cuma anak.
Tapi kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan itu rusak, yang hancur bukan cuma rasa aman anak, tetapi juga hati orang tuanya.
Sejak membaca berita itu, saya jadi jauh lebih waspada. Ada konflik batin yang semakin sering muncul. Di satu sisi, saya tahu saya perlu bekerja. Saya mencintai pekerjaan saya, dan pekerjaan itu juga bagian dari diri saya. Di sisi lain, selalu ada rasa ingin menjaga anak sendiri sepanjang waktu. Antara kebutuhan bekerja dan naluri untuk selalu dekat dengan anak, sering kali saya berdiri di tengah-tengahnya sambil menahan rasa bersalah.
Rasa bersalah itu sebenarnya pernah muncul ketika anak saya masih lebih kecil. Pertanyaan-pertanyaan seperti:
Pertanyaan yang mungkin tidak selalu terucap, tapi diam-diam tinggal di kepala banyak ibu bekerja. Namun saya juga sadar, tidak semua daycare buruk. Ada banyak pengasuh yang tulus. Ada daycare yang benar-benar menjadi support system bagi orang tua. Ada orang-orang yang merawat anak-anak dengan sabar dan penuh kasih, bahkan ketika anak itu bukan darah dagingnya sendiri.
Karena itu, menurut saya yang perlu diperjuangkan bukan rasa takut berlebihan, melainkan pengawasan dan standar yang lebih baik. Daycare seharusnya memiliki sistem yang jelas, transparansi, pengawasan rutin, pelatihan pengasuh, dan perlindungan yang benar-benar berpihak pada anak. Orang tua juga perlu lebih kritis: berani bertanya, berani mengecek, berani memastikan.
Sayangnya, isu ini juga membuka kenyataan lain: betapa minimnya dukungan untuk ibu bekerja di negara kita.
Cuti melahirkan yang terasa singkat. Fasilitas penitipan anak yang belum merata. Jam kerja yang sering tidak ramah keluarga. Belum lagi ekspektasi bahwa ibu harus tetap hadir penuh di rumah, seolah tenaga dan waktunya tidak terbatas. Padahal banyak ibu bekerja bukan karena ingin “lari” dari anaknya. Tapi karena hidup memang menuntut demikian. Karena keluarga perlu bertahan. Karena mimpi pribadi juga layak hidup berdampingan dengan peran sebagai ibu.
Dan di tengah semua itu, hanya satu hal sederhana yang saya inginkan yaitu anak saya aman.
Menulis ini bukan untuk membela daycare sepenuhnya, juga bukan untuk menghakimi ibu yang memilih jalan berbeda. Saya hanya ingin mengatakan bahwa di balik pintu-pintu daycare setiap pagi, ada ibu/bapak yang melangkah pergi sambil menahan hati mereka sendiri.
Dan mungkin, alih-alih saling menghakimi pilihan sesama ibu, kita perlu mulai membangun dunia yang lebih aman untuk anak-anak dan lebih ramah untuk perempuan yang sedang berusaha menjalani semuanya sekaligus. Karena pada akhirnya, tidak ada ibu yang benar-benar “tenang” saat berpisah dengan anaknya.
.jpg)
No comments:
Post a Comment