Friday, August 29, 2014
Suatu siang di Bandara
Aku duduk di kursi tunggu sebelum chek-in sambil memperhatikan orang-orang di Bandara. Bandara waktu itu ramai sekali, orang-orang berlalu lalang dan orang-orang yang mengobrol, para petugas yang menyapa ramah dan para pekerja yang menawarkan jasa.
Tidak sulit untuk melihatmu dari kejauhan, yang datang dari arah tempat parkir. Walau mataku yang kini silinder, yang ketika melihat sesuatu di kejauhan selalu buram, tapi aku tetap bisa mengenalimu. Dengan posturmu yang tinggi itu dan masa aku mengenalmu yang sudah bertahun-tahun aku bisa mengenalimu.
Kemudian mengobrollah kita, disela-sela waktu menunggu. Entah berawal darimana, percakapanpun mengalir. Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu jadi banyak sekali cerita yang tersampaikan. Aku merasa seperti diri sendiri yang bercerita dengan bebasnya dan kau yang duduk mendengarkan, sesekali kita berdebat tentang sesuatu yang akhirnya membuat kita tertawa.
Kau menyelipkan sebuah buku. Kau bilang buku itu bagus, cerita tentang Jogja dan Bandung. Selain itu kau tidak berkata-kata apapun tentang buku itu. Namun setelah membukanya aku tahu ada misi dalam buku itu. Baru membaca sinopsis buku itu saja aku tahu maksudmu.
Siang itu di Bandara, ada yang tersenyum lebar karena sebuah pertemuan dan cerita.
Sunset
Wednesday, August 27, 2014
Aku memilih
Aku memilih tuk menapaki jalan bersamamu.
Aku memilih tuk berbagi cerita bersamamu.
Aku memilih tuk menggenapkannya bersamamu
Aku memilih.
Sunday, August 24, 2014
Book Review: Sabtu Bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Halaman : 273 Hal.
Penerbit : Gagas Media
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Adithya Mulya yang telah menyajikan cerita yang kece dalam buku ini. Terima Kasih. Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku Adhitya Mulya, yang diterbitkan oleh gagas media, biasanya setiap membaca buku terbitan gagas media saya merasa biasa-biasa saja, tapi tidak dengan buku tulisan Adhitya ini.
Ide cerita dalam novel ini segar dan menarik, membuatmu ingin segera menyelesaikannya. Banyak pesan moral di dalamnya, sederhana tapi mengena, tidak terasa menggurui. Membaca buku ini membuat saya seperti seorang anak yang sedang dinasehati orang tua yang bijaksana.
Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga. Sang bapak merekam banyak video dirinya sendiri, dalam video dia memberikan nasihat-nasihat dan berbagai cerita yang ditujukan untuk anak-anaknya juga istrinya. Ini ia lakukan ketika ia divonis akan segera berpulang karena sakit yang ia derita. Anak-anaknya tumbuh dengan baik, mereka menemukan cintanya sendiri dan menjadi kuat.
Selain itu banyak juga bagian-bagian lucu dalam novel ini, email-emailan lucu yang membuat saya terbahak. Dialog-dialognya ringan, tidak susah untuk dimenegrti. Saya rasa kekuatan Adhitya adalah ada dalam dialog-dialog yang ia ciptakan. Dialog-dialognya terasa pas dan membuatmu ingin meneruskan sampai habis.
Saya rekomendasikan novel ini untuk kalian baca, terlebih untuk para laki-laki sebagai calon suami dan calon bapak. Di dalamnya akan kalian rasakan kehangatan hubungan antara anak dan orangtua, suami dan istri, adik dan kakak. Akan membuatmu merasa sangat bersyukur memiliki keluarga. Silahkan dibaca dan rasakan sendiri keistimewaannya.
“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…., tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.”
Sunday, August 3, 2014
Libur Lebaran: Pantai Pink!
Akhirnya hari pertama libur lebaran saya bersama adek perempuan saya dan beberapa orang teman datang ke Pantai Pink. Pantai Pink ini secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, Desa Sekaroh, dan untuk menuju pantai ini kita harus melewati hutan Sekaroh. Kuberitahu sebuah rahasia bahwa Pantai Pink ini letaknya jauh dan tersembunyi, jalan yang akan kalian lalui itu penuh batu, tanah, dan lubang, enggak kebayang gimana kondisi jalannya ketika hujan. Dari rumah saya saja Lendang Nangka, Masbagik (masih Kabupaten Lombok Timur), perjalanannya ditempuh selama 2 jam. Jika ingin ke Pantai Pink kondisi kendaraan kalian harus prima.
Perjalanan yang begitu panjang dan tidak mulus akan terbayar dengan pemandangan pantai yang subhanalloh indahnya. Di sebelah kanan dari pintu masuk Pantai ini ada sebuah tebing, terdapat beberapa pulau kecil di tengahnya dan di sebelah kiri juga ada tebing dan katanya terdapat beberapa gua.
tadaaaa.....Pantai Pink :)
Pantai ini disebut Pantai ini memiliki Pasir yang berwarna pink, ia memiliki butiran-butiran yang berwarna pink, setelah saya perhatika memang benar pink lho. Sayangnya saya tidak bisa mengabadikan pasirnya yang pink karena kami sampai di pantai ini sudah siang hari. Biasanya pantai ini akan terlihat pink ketika terkena sinar mentari pagi.
Saya dan Pantai \D/
inilah kami yang main ke Pantai Pink
Hutan Sekaroh
Liburan ke Pantai Pink lumayan menghibur dan membuat mata segar :)
Saturday, August 2, 2014
Ritual Tahunan: Pinak Pelecing Kangkung Berempat
Jadi ceritanya begini, saya mempunyai tiga orang sahabat perempuan yaitu Kiki, Yulida dan Dije. Kami dari satu kampung yang sama, sejak taman kanak-kanak sampai saat ini 2014 kami bersahabat. Sejak kecil kami sering main bareng, melakukan kenakalan-kenakalan khas masa kecil, sampai kami sama-sama beranjak remaja dan menjadi dewasa.
Seperti diketahui bersama bahwa momen libur lebaran adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan para sahabat. Kamipun selalu melakukan hal yang sama, setiap libur lebaran kami selalu menetapkan satu hari untuk berkumpul berempat dengan ritual wajib "pinak pelecing" alias bikin pelecing.
Biasanya kami pinak pelecing di rumah Kiki, ibunya Kiki akan sangat senang melihat kami datang, kemudian akan menyilahkan kami memakan makanan-makanan yang ada di rumahnya (mungkin gegara kami terlihat selalu kelaparan...haha). Sebelum pinak pelecing bareng, kami akan ke pasar dulu untuk beli bahan-bahan pelecing, namun beberapa waktu terahir Kiki menyediakan bahan-bahannya langsung, dengan sponsor penuh dari Ibunya :D.
Libur lebaran tahun ini, kami melakukan ekspansi dengan pindah lokasi pinak pelecing yaitu di berugaknya Yulida yang ada di sawah barunya. Pinak pelecing ini disponsori oleh Yulida secara penuh.
Seksi ngulek bumbu di setiap momen pinak pelecing kami adalah Dije, tidak boleh diganggu gugat dan harus pedaaaasss. Baiklah kami mengiyakan, soalnya si doi penggila pedas, sebenarnya kami berempat lebih tepatnya..hehe.
Berugaknya Yulida
ada kolam kangkung juga lhoo
Pelcing kangkung kami dilengkapi dengan nasi putih, ayam panggang plus sambal bawangnya, kerupuk, dan biasanya kami bikin es sirup juga, tapi cukuplah tadi air putih. Tidak kalah nikmat juga :) dan tidak ketinggalan juga berbagai cerita yang mengalir dari A-Z.
Pelecing Kangkung
Nikmatnya itu karena bareng kalian, semoga tahun-tahun setelah ini kita masih bisa pinak pelecing bareng ya.
Big Hug
Thursday, July 31, 2014
Perjalanan Pertama Adek Laki-laki Saya
Adek laki-laki pertama saya, Iskandar Suhairi yang akan melakukan perjalanan hari ini. Ia akan pergi menuntut ilmu, melanjutkan sekolahnya ke pondok pesantren modern gontor Jatim. Ini adalah perjalanan pertamanya menyeberangi pulau, perjalanan pertamanya menggunakan pesawat. Ia mengatakan kalau ia sedikit grogi karena akan mengalami pengalaman pertama dengan pesawat. Namun sebenarnya ia tidak perlu hawatir, karena Bapak menemaninya, Bapak akan membimbingnya nanti. Bapak akan menemaninya sampai semua urusan pendaftaran sampai daftar ulang selesai.
Betapa bangganya saya sama kamu dek, diumurmu yang baru 15 tahun sudah berani membuat keputusan untuk sekolah di tempat yang jauh, di ponpes lagi. Kakakmu ini saja ketika seumuranmu tidak pernah berpikir untuk sekolah di tempat yang jauh dari rumah, apalagi mau sekolah di ponpes. Memang ini bukan kali pertama kamu mondok kan, Mts kemarin juga kamu memilih mondok. Jadi pasti kamu sudah terbiasa dengan suasana ponpes. Semoga kamu diberikan kelapangan dan ilmu yang berkah.
Saya dan Adek :)
Sekarang kamu sudah tumbuh besar ya, lucu jika ingat dulu kamu kecil, masih bisa digendong, diajakin main kesana kemari. Sekarang badanmu sudah tumbuh, tinggimu saja udah jauh di atas kakakmu ini. Tapi itu adalah hal bagus, tandanya kamu tumbuh sehat, tumbuh dengan baik.
Kakakmu ini pasti akan merindukanmu, kami akan merindukanmu. Naman ada dua pasang hati yang akan sangat rindu padamu melebihi apapun yaitu Ibuk dan Bapak. Hanya dukungan penuh serta doa-doa terbaik yang akan menemani perjalananmu. Doa-doa merekalah yang akan selalu membuat perjalananmu penuh berkah. Jika rasa rindu tengah menderamu, maka berdoalah pada yang maha pemilik rindu, sampaikan padanya tentang kerinduanmu agar hatimu tenang.
Kakakmu ini mengenalmu sebagai anak yang penurut, dan kamu tidak pernah macam-macam, kecuali beberapa kali membuat hawatir Ibuk karena pulang terlambat dari sekolah gara-gara main. Atau ketika kau mengganggu adek kita yang asyik bermain, yang membuat Ibuk menegur keras karena suara kalian yang membuat ribut dan kalian yang membuat rumah berantakan. Namun urusan sekolah kamu adalah anak yang luar biasa penurut. Jadi kakakmu ini yakin kau akan dapat membuat Ibuk dan Bapak bangga dan bahagia.
Percayalah ini adalah baru sebagian kecil dari perjalanan yang harus kau lalui, baru sebagian anak tangga yang harus kau tapaki. Sesungguhnya hidup ini adalah perjalanan, ada tempat yang lebih hakiki yang akan didatangi, maka bersiaplah. Tetap lakukan yang terbaik. Kejar cita-citamu, impianmu dan ukir prestasi terbaikmu.
Kami menyayangimu.
Monday, July 14, 2014
Book Review: Kukila
Penulis : M. Aan Mansyur
Halaman : 184 Hal.
Penerbit : Gramedia Pustaka
Kukila, terdengar seperti nama seorang gadis. Memang begitulah adanya kukila adalah nama seorang gadis di dalam salah satu cerita di buku ini. Kukila menjadi judul buku ini karena Kukila merupakan cerita utama yang lebih panjang dari cerita-cerita lainnya di buku ini. Sejatinya buku ini adalah buku kumpulan-kumpulan cerita.
Saya mengenal M. Aan Mansyur berawal dari aktifitas saya di twitter yang memfollow akun twitternya @hurufkecil. Di twitternya ia kerap kali ngetweet kalimat-kalimat romantis, celetukan, sindiran atau apapun, namun selalu terasa romantis. Hal ini juga diungkapkan seorang teman yang mengatakan bahwa ia adalah pria romantis, karena ternyata teman saya adalah adik tingkatnya di kampus dulu dan aktif di satu komunitas di Makassar.
Kukila adalah buku pertama Aan yang saya baca, padahal buku Aan sudah banyak, entah itu kumpulan cerita-cerita ataupun novel. Saya menyukai tulisan-tulisan Aan di buku ini, terasa sangat real, saya merasa Aan banyak menceritakan dirinya sendiri dalam buku ini. Dalam cerita-cerita di buku ini ia menuliskan hal-hal tentang cinta, patah hati, kehilangan, dan rindu. Ada satu cerita yang membuat saya merasa sedih yakni di cerita yang berjudul " Setia adalah Pekerjaan yang Baik". Di cerita itu Aan menceritakan tentang ayahnya yang telah lama meninggalkan keluraganya, namun ibunya tetap setia menunggu. Saya tidak menyangka kehidupan Aan seperti itu.
Aan menulis hal-hal yang tidak jauh-jauh dari urusan hati. Ia menulis dengan menyelipkan syair-syair dan seperti puisi, mungkin memang sudah menjadi jiwanya. Aan menulis dengan mengalir dan terselip kenakalan-kenalakan tersendiri di dalamnya.
Setelah memulai dengan buku ini, saya ingin membaca buku-buku Aan yang lain.
Saturday, July 12, 2014
Book Review: Corat-Coret Di Toilet
Judul : Corat-Coret Di Toilet
Penulis : Eka Kurniawan
Halaman : 121 Hal.
Penerbit : Gramedia Pustaka
Saya membeli dan membaca buku ini tanpa rencana. Kadang dari rumah kita memiliki keinginan untuk membeli buku yang telah kita rencanakan jika ke toko buku, namun sesampainya di toko buku malah membeli buku yang lain. Itulah yang terjadi pada saya, saya berniat mencari buku yang lain tapi pulang dengan membawa tiga buah buku berbeda, dan salah satunya buku Corat-Coret Di Toilet ini.
Ini pertama kalinya saya membaca buku Eka Kurniawan. Maafkan saya. Saya tahu Eka Kurniawan dari blognya (ekakurniawan.com) setelah tiba-tiba nyasar kesana. Dia seorang penulis, tulisan-tulisan di blognya banyak tentang buku-buku dan sastra. Dari tulisan-tulisannya di blog saya sudah suka dengan gaya menulisnya, lalu muncul keinginan untuk membaca bukunya. Namun keinginan tersebut selalu terkendala dengan hal-hal lain.
Buku ini telah diterbitkan pertama kali di tahun 2000, dengan judul yang sama diterbitkan kembali di tahun 2014 ini. Buku ini merupakan kumpulan cerita-cerita pendek yang kebanyakan membahas tentang masalah-masalah sosial dan politik. Tidak mengherankan memang karena Eka menulis cerita-cerita tersebut di tahun-tahun yang penuh pergolakan politik (1999-2000).
Gaya menulis Eka segar dan tidak melodramatik, menggelitik pikiran, membuat tersenyum dan membuat cemberut pada satu waktu. Dia banyak menyampaikan protes-protes melalui cerita-ceritanya. Mengangkat persoalan-persoalan sosial di dalamnya. Cerita-cerita di dalamnya juga banyak memberikan unsur-unsur komedi, menghibur namun mengena.
Protes politik yang paling terlihat itu ada di dalam cerita yang berjudul "Corat-Coret Di Toilet". Cerita ini menceritakan tentang tulisan berantai yang tercipta di toilet, yang berawal dari keisengan salah satu mahasiswa yang sedang melakukan hajatnya di toilet. Tulisan tersebut kemudian disambung oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang ke toilet tersebut. Tulisan-tulisan tersebut bermacam-macam, berisi kalimat-kalimat protes atas pemerintahan, kalimat-kalimat provokatif, sampai kalimat-kalimat aneh macam "Mau kencan denganku? Jemput di hotel". Salah satu kalimat yang paling menohok sebagai protes adalah
"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet"
Saya mikir sekaligus senyum membaca cerita ini, mengingat tulisan-tulisan macam ini masih banyak sampai sekarang, di dinding-dinding pagar, dinding rumah tak berpenghuni dan di toilet.
Satu lagi cerita yang berkesan buat saya yaitu cerita terakhir di buku ini yaitu "Kandang Babi". Di cerita ini Eka berhasil mengangkat sebuah fenomena sosial yang terlihat remeh namun ternyata setelah membaca cerita ini meyakinkan saya bahwa hal tersebut dapat menjadi sebuah masalah sosial. Cerita ini menceritakan tentang seorang mahasiswa yang tidak serius kuliah, sudah belasan semester ia jalani di kampus. Tidak kunjung lulus. Dan mahasiswa itu menjadikan bekas gudang penyimpanan yang ia sebut seperti kandang babi sebagai markasnya, alias tempat tidurnya, pasalnya gratis. Ternyata di kampus bukan hanya dia yang melakukan hal tersebut, banyak lagi mahasiswa lain yang melakukan hal serupa di fakultas-fakultas lain di kampusnya. Suatu ketika ia terusir dari tempat yang ia sangka akan menjadi miliknya selamanya. Iapun bingung mencari tempat tinggal, pulang tak mungkin, karena ia sudah terlanjur malu.
Fenomena tersebut memang sampai sekarang masih banyak terjadi. Banyak mahasiswa yang menjadikan ruangan-ruangan kosong di kampus sebagai tempat tidur mereka, tentu secara diam-diam, gratisnyalah yang mereka cari. Ini bisa menjadi masalah di kampus, masalah sosial.
Saya menghabiskan buku ini dalam waktu dua jam, sambil menunggu mood yang baik datang untuk mengerjakan rencana penelitian.
Saya berencana membaca buku Eka yang lain, terutama novel-novelnya, "Cantik Itu Luka" dan "Seperti Dendam, Rindu Harus Di Bayar Tuntas"
Selamat Membaca
Wednesday, July 9, 2014
Selamat Pagi, Cinta
Apa menurutmu ini masih pagi? atau sudah siang?
Masihkah kau malu-malu, cinta
Semalam setelah banyak malam tanpa mimpi tentangmu, tiba-tiba kau hadir saja
Kau muncul dengan wajah yang bertanya, mengapa aku menghilang,
mengapa aku tidak pernah menanyakan kabarmu lagi
Semalam aku ingin menjawabmu dengan kata-kata, bukan hanya dengan ekspresi wajah seperti yang selalu kau lakukan
Semalam aku ingin katakan alasannya, atau mungkin aku memang tidak memiliki alasan apapun, aku tidak punya alasan apapun untuk mendekat atau menjauh darimu
Tapi tetap saja aku kelu di depanmu
Selamat Pagi, Cinta
For Gaza
Apa yang ada di benak kita ketika kita malah hanya sibuk meributkan piala dunia atau pemilihan presiden
Apa kita sudah tidak punya rasa kemanusiaan? kita tidak perlu harus menganut agama tertentu untuk saling peduli pada sesama manusia
Mengapa semakin hari manusia menjadi semakin serakah sampai saling membunuhpun jadi pekerjaan kecil demi tujuan tercapai
Oh..Tuhan bagaimana ini, ketika saudara-saudara kami yang jauh disana dibantai habis-habisan tanpa bisa melawan sedangkan kami hanya sibuk dengan urusan kami sendiri
Kakiku sendiri belum bisa sampai disana, hanyalah doa yang kupanjatkan padaMu agar engkau melimpahkan segala rahmatmu kepada mereka
Engkau pasti tahu mereka akan kuat menjalani itu, ada hadiah surga untuk mereka
Engkau pasti sangat menyayangi mereka
Di Ramdhanmu yang penuh berkah ini berikanlah mereka kekuatan untuk ujianmu ini, atau mungkin ini adalah hadiahmu untuk mereka, karena kasih sayangmu
Ini Ramdhanmu, terimalah mereka di sisimu
Sunday, July 6, 2014
Sajak Apa Kabar?
Apa kabar Ibuk?
Kakak kangen nih,
semakin kangen karena sore tadi ibuk menelpon katanya mau masak buat buka puasa tapi mau mendengar suara kami dulu yang ada di Jogja...
aah...Ibuk, selalu bisa bikin speechless
Apa kabar Bapak?
Kakak juga kangen,
kangen buka bareng dengan sambal khas buatan bapak,
tunggu kami pulang ya
Apa kabar Adek?
Adek-adek jagoanku,
kakak juga kangen kalian,
Apa kabar Bonn Klasse?
Kangen belajar bahasa Jerman bareng,
tidak sabar dengan jadwal kelas setelah lebaran
Apa kabar Geoinvoice?
Sekarang mencar-mencar ya,
sibuk sama rencana penelitian masing-masing
Apa kabar Lendang Nangka?
Kangen kampung halaman,
apalagi suasana Ramadhannya,
Apa kabar kamu?
Semoga sehat ya