Sayang….
Orang seperti kita ini kalau tidak punya mimpi dan cita-cita maka tidak ada lagi yang tersisa. Satu-satunya jalan adalah kau harus bermimpi, harus punya mimpi, cita-cita dan harapan. Dengan begitu kau tahu akan kemana dan kau harus memperjuangkannya. Mimpi ataupun harapan memang bukan jaminan bahwa semuanya akan berjalan mulus, namun ketika mimpi dan harapan itu ada, paling tidak kita tahu apa yang akan kita perjuangkan.
Sayang….
Percayalah tidak akan ada yang sia-sia di muka bumi ini. Apapun yang kau lakukan pasti akan ada balasannya. Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah. Ini baru permulaan, baru garis start yang kau lewati. Dalam perjalananmu masih banyak hal baru yang akan kau temui, yang akan semakin memperkaya dirimu. Kau harus bersiap.
Sayang….
Ingatlah selalu bahwa kau tidak akan pernah sendiri. Banyak orang-orang spesial yang akan selalu membersamaimu, yang akan memberikan dukungan terbaik buatmu. Jangan pernah lupa bahwa ada sang maha pemberi yang tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau hanya harus memperlihatkan perjuanganmu.
Sunday, November 23, 2014
Kota Kedua
Ini adalah malam kesekian di Jogja. Setahun lebih tinggal di Jogja tidak membuatku merasa satu dengannya. Aku tidak pernah menaruh hatiku pada Jogja, ia hanya menjadi tempat sementara tuk disinggahi. Memang benar kata orang, sejauh apapun kau melangkah tetap saja kampung halaman tiada duanya.
Namun sedikit tidak tinggal di Jogja memberi banyak pengalaman, banyak pertemuan dengan orang-orang baru, banyak pemikiran-pemikiran baru. Tinggal di kota ini mempertemukan saya dengan orang-orang dari seluruh Indonesia. Jogja sebagai kota pelajar membuat ia didatangi oleh orang-orang dari berbagai daerah, dengan segala keunikannya.
Meski Jogja menawarkan banyak hal yang tidak ada di kampung halaman, tetap saja ia tidak bisa menggantikan kampung halaman. Hal-hal yang “ke-kota-an” ada di sini, yang mungkin dapat mengubahmu menjadi lebih “kota”. Jogja hanyalah tempat kedua, tak akan pernah jadi yang pertama.
Namun sedikit tidak tinggal di Jogja memberi banyak pengalaman, banyak pertemuan dengan orang-orang baru, banyak pemikiran-pemikiran baru. Tinggal di kota ini mempertemukan saya dengan orang-orang dari seluruh Indonesia. Jogja sebagai kota pelajar membuat ia didatangi oleh orang-orang dari berbagai daerah, dengan segala keunikannya.
Meski Jogja menawarkan banyak hal yang tidak ada di kampung halaman, tetap saja ia tidak bisa menggantikan kampung halaman. Hal-hal yang “ke-kota-an” ada di sini, yang mungkin dapat mengubahmu menjadi lebih “kota”. Jogja hanyalah tempat kedua, tak akan pernah jadi yang pertama.
Monday, November 17, 2014
Titik Nol
"Pergilah, Jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup, niscaya jalan apapun yang kau pilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal."
"Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri.
Pulang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan.
Tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang."
"Cinta sama sekali tak takut Jarak, Waktu, Maut. Cinta tak kenal perbedaan bangsa dan agama, jurang usia atau kelas manusia. Cinta bukan teori, cinta bukanlah kata-kata tinggi. Cinta itu harus ditunjukkan, dilakukan, dibuktikan. Cinta ada bahkan dalam satu sentuhan lembut, dalam kecupan dan untaian dongeng, dalam tatap mata dan ucapan salam."
Agustinus Wibowo -Titik Nol-
"Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri.
Pulang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan.
Tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang."
"Cinta sama sekali tak takut Jarak, Waktu, Maut. Cinta tak kenal perbedaan bangsa dan agama, jurang usia atau kelas manusia. Cinta bukan teori, cinta bukanlah kata-kata tinggi. Cinta itu harus ditunjukkan, dilakukan, dibuktikan. Cinta ada bahkan dalam satu sentuhan lembut, dalam kecupan dan untaian dongeng, dalam tatap mata dan ucapan salam."
Agustinus Wibowo -Titik Nol-
Thursday, November 13, 2014
Happy Birthday!
Haloo adek apa kabar kamu disana? Semoga sehat selalu dan sekolahmu lancar.
Ingat gak hari ini hari ulang tahunmu. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan ulang tahun, tidak ada acara khusus yang harus diadakan. Tapi setidaknya dengan mengingat hari ulang tahun alias tanggal lahir kita diberi jalan untuk mengingat bahwa kita masih hidup sekaligus mengingat bahwa jatah hidup kita berkurang. Hal itu dapat menjadi renungan atas anugerah usia yang kita peroleh telah kita isi dengan apa. Semakin dekatkah kita dengan sang pencipta? Semakin berbaktikah kita kepada orangtua? Semakin bermanfaatkah kita bagi sesama? Dan masih banyak semakin-semakin yang lain, tentu “semakin” dalam hal positif.
Jumat, 14 November 2014 hari ulang tahun adek laki-laki saya Iskandar Suahiri. Semua doa yang terbaik disampaikan untukmu. Semoga umurmu berkah. Belajar yang rajin ya disana. Teruslah membanggakan. Happy Birthday!
Ingat gak hari ini hari ulang tahunmu. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan ulang tahun, tidak ada acara khusus yang harus diadakan. Tapi setidaknya dengan mengingat hari ulang tahun alias tanggal lahir kita diberi jalan untuk mengingat bahwa kita masih hidup sekaligus mengingat bahwa jatah hidup kita berkurang. Hal itu dapat menjadi renungan atas anugerah usia yang kita peroleh telah kita isi dengan apa. Semakin dekatkah kita dengan sang pencipta? Semakin berbaktikah kita kepada orangtua? Semakin bermanfaatkah kita bagi sesama? Dan masih banyak semakin-semakin yang lain, tentu “semakin” dalam hal positif.
Jumat, 14 November 2014 hari ulang tahun adek laki-laki saya Iskandar Suahiri. Semua doa yang terbaik disampaikan untukmu. Semoga umurmu berkah. Belajar yang rajin ya disana. Teruslah membanggakan. Happy Birthday!
Jika
Jika kau tengah letih dan rasanya ingin menyerah saja, maka lihatlah orang-orang yang masih berjuang. Lihatlah mereka yang masih gigih memperjuangkan mimpinya bahkan sedang semangat-semangatnya untuk memulai. Mungkin dengan begitu kobaran semangat itu dapat mengaliri dirimu juga.
Jika jalanmu tengah buntu dan rasanya seperti terjebak sendiri, maka bantulah orang-orang di sekitarmu. Lihatlah orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuanmu, bantu mereka dengan tulus. Mungkin dengan begitu kau akan menemukan jalanmu, menemukan jalan keluar atas kebuntuanmu sendiri.
Jika hati dan pikiranmu tengah kusut dan rasanya seperti tersiksa, maka ceritakanlah, ceritakanlah pada orang lain atau pada tulisan-tulisan di kertas putih. Jangan ragu untuk membaginya dengan yang lain. Mungkin dengan begitu kau akan merasakan kelegaan, merasa bahwa hatimu juga perlu berbagi.
Jika jalanmu tengah buntu dan rasanya seperti terjebak sendiri, maka bantulah orang-orang di sekitarmu. Lihatlah orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuanmu, bantu mereka dengan tulus. Mungkin dengan begitu kau akan menemukan jalanmu, menemukan jalan keluar atas kebuntuanmu sendiri.
Jika hati dan pikiranmu tengah kusut dan rasanya seperti tersiksa, maka ceritakanlah, ceritakanlah pada orang lain atau pada tulisan-tulisan di kertas putih. Jangan ragu untuk membaginya dengan yang lain. Mungkin dengan begitu kau akan merasakan kelegaan, merasa bahwa hatimu juga perlu berbagi.
Monday, November 10, 2014
Apa Kabar Nona?
Apa Kabar Nona?
masihkan kau risau karena rindu
masihkah kau gelisah karena janji yang belum ditunaikan
Apa Kabar Nona?
tersentakkah kau ketika ada yang bertambah tua ketika kau bertambah usia
tersentakkah kau ketika ada kedalaman kasih pada tatapan matanya
Apa Kabar Nona?
masihkah kau mengesap pahit dan manis kopi di pagi hari
masihkah kau memutar lagu yang sama berulang kali
Apa Kabar Nona?
masihkah kau melamunkan masa depan dengan lebih dulu melamunkan masa lalu
masihkah kau merangkai cerita dalam lamunan lalu menuliskannya
Apa Kabar Nona?
masihkan kau risau karena rindu
masihkah kau gelisah karena janji yang belum ditunaikan
Apa Kabar Nona?
tersentakkah kau ketika ada yang bertambah tua ketika kau bertambah usia
tersentakkah kau ketika ada kedalaman kasih pada tatapan matanya
Apa Kabar Nona?
masihkah kau mengesap pahit dan manis kopi di pagi hari
masihkah kau memutar lagu yang sama berulang kali
Apa Kabar Nona?
masihkah kau melamunkan masa depan dengan lebih dulu melamunkan masa lalu
masihkah kau merangkai cerita dalam lamunan lalu menuliskannya
Apa Kabar Nona?
Saturday, November 8, 2014
The Fault in Our Stars
Saya tahu ini terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk share tentang ini. Ini adalah tentang sebuah film yang saya tonton semalam yaitu The Fault in Our Stars. Film ini diangkat dari novel karangan Jhon Green dengan judul yang sama. Sebelum filmnya dibuat saya sudah lama membaca buku ini. Waktu itu saya membelinya karena ada tulisan new york time best seller di sampulnya. Ini adalah kebiasaan saya jika bingung ingin membeli buku yang mana, maka saya akan memilih buku yang ada tulisan best sellernya. Ternyata setelah membaca bukunya harus diakui bukunya memang bagus walau terasa sedikit agak berat bahasanya, kebetulan saya membeli edisi terjemahan Indonesianya. Di dalamnya banyak quote-quote yang romantis dan yang membangkitkan semangat. Karena memang bagus dan best seller akhirnya buku tersebut dibuat film. Awalnya saya tidak berniat menonton filmnya, karena menurut saya film yang diangkat dari buku terkadang tidak sebagus bukunya. Namun setelah berbulan-bulan lewat dari launching filmnya, semalam setelah ngopi dari teman dan sedang punya waktu luang saya menonton film ini.
Voila! filmnya keren sodara-sodara.
Mungkin karena saya adalah orang yang memang suka novel, drama, dan hal-hal yang romantis maka saya langsung suka film ini. Namun dalam film ini juga ada adegan komedinya, jadi jangan hawatir disini tetap ada hal-hal lucunya. Saya menonton film ini tanpa saya geser-geser untuk dipercepat. Film ini bercerita tentang penderita kanker, tokoh utamanya Hazel Grace dan Augustus Waters. Saya sangat suka mereka berdua. Hazel Grace sosok yang benar-benar menjadi dirinya sendiri, dia tidak hidup dalam impian orang lain. Dia memiliki pemikiran-pemikirannya sendiri tentang dunia dan hidupnya. Ia anak yang manis dan sangat mencintai keluarganya. Walau terkena kanker dia tidak merasa terpuruk meski disaat-saat kritis dia hampir kehilangan harapannya. Sedangkan Augustus Waters sosok yang periang, penuh senyum dan humoris. Kanker yang bersemayam dalam tubuhnya tidak menghilangkan senyum di wajahnya. Ia disayangi orang-orang termasuk sahabatnya Isaac dan begitupun sebaliknya. Kehadiran Augustus telah memberikan warna baru dalam hidup Hazel. Memberikan dukungan, semangat, kasih sayang dan ikut mewujudkan impian Hazel untuk bertemu penulis favoritnya.
Namun kematian tetap saja menjadi hal yang menyedihkan. Augustus mati karena kanker yang semakin parah, meninggalkan Hazel yang masih harus berjuang melawan kankernya. Pidato pemakaman Hazel juara! berhasil membuat saya berderai airmata.
Hazel mengatakan:
"You gave me a forever within the numbered days. I cannot tell you how thankful I'am for our little infinity"
Original soundtrack dari film ini juga keren-keren dan pas banget sama filmnya. Bagi yang suka drama romantis tontonlah film ini, maka kalian akan mengerti. Jangan lupa baca bukunya juga ya.
Voila! filmnya keren sodara-sodara.
Mungkin karena saya adalah orang yang memang suka novel, drama, dan hal-hal yang romantis maka saya langsung suka film ini. Namun dalam film ini juga ada adegan komedinya, jadi jangan hawatir disini tetap ada hal-hal lucunya. Saya menonton film ini tanpa saya geser-geser untuk dipercepat. Film ini bercerita tentang penderita kanker, tokoh utamanya Hazel Grace dan Augustus Waters. Saya sangat suka mereka berdua. Hazel Grace sosok yang benar-benar menjadi dirinya sendiri, dia tidak hidup dalam impian orang lain. Dia memiliki pemikiran-pemikirannya sendiri tentang dunia dan hidupnya. Ia anak yang manis dan sangat mencintai keluarganya. Walau terkena kanker dia tidak merasa terpuruk meski disaat-saat kritis dia hampir kehilangan harapannya. Sedangkan Augustus Waters sosok yang periang, penuh senyum dan humoris. Kanker yang bersemayam dalam tubuhnya tidak menghilangkan senyum di wajahnya. Ia disayangi orang-orang termasuk sahabatnya Isaac dan begitupun sebaliknya. Kehadiran Augustus telah memberikan warna baru dalam hidup Hazel. Memberikan dukungan, semangat, kasih sayang dan ikut mewujudkan impian Hazel untuk bertemu penulis favoritnya.
Namun kematian tetap saja menjadi hal yang menyedihkan. Augustus mati karena kanker yang semakin parah, meninggalkan Hazel yang masih harus berjuang melawan kankernya. Pidato pemakaman Hazel juara! berhasil membuat saya berderai airmata.
Hazel mengatakan:
"You gave me a forever within the numbered days. I cannot tell you how thankful I'am for our little infinity"
Original soundtrack dari film ini juga keren-keren dan pas banget sama filmnya. Bagi yang suka drama romantis tontonlah film ini, maka kalian akan mengerti. Jangan lupa baca bukunya juga ya.
Kenangan Yang Dibawa Hujan
Hujan turun selalu membawa serta kenangan, entah mengapa ia seperti punya kekuatan magis yang dapat menghidupkan waktu. Betapa banyak puisi dan sajak yang terinspirasi dari hujan, betapa banyak cerita yang ditulis dengan latar hujan. Hujan terasa begitu spesial bagi siapapun.
Begitupun bagiku. Hujan siang tadi menggeretku pada kenangan masa kecil. Ketika aku tidak perlu memikirkan hal-hal besar dalam hidup. Ketika yang ada dalam otakku hanyalah bermain. Ketika semua keinginan terasa sangat mudah diraih. Ketika dunia terasa sangat aman. Waktu itu jika hujan turun aku seperti anak-anak lainnya akan merasa sangat senang. Jika hujan turun mata kami berbinar-binar karena ketika hujan turun itu berarti aku bisa bermain air, mandi hujan. Meski harus sembunyi-sembunyi, karena biasanya orang tuaku tidak akan mengijinkan. Namun sekali waktu orang tua akan mengijinkan. Kehadiran hujan selalu membawa kesejukan, melapisi udara dengan kesegaran dan menghijaukan pekarangan. Hujan kala itu terasa ajaib di mataku, tak pernah sekalipun aku menggerutu tentang hujan.
Ketika itu, hujan terasa selalu membawa kedamaian. Tak pernah kudengar hujan yang membawa kehancuran, namun hal itu berbalik dengan keadaan hari ini. Hujan kala itu membawa serta orang-orang menjadi satu untuk bergembira, bukan untuk disumpahi. Aku ingin menjadi orang yang selalu bergembira atas datangnya hujan karena aku punya kenangan yang indah tentang hujan. Kenangan tentang masa kecil yang manis bersama orang-orang terkasih.
Hujan memang selalu berhasil menghadirkan waktu yang telah lalu dalam bingkai kenangan.
Begitupun bagiku. Hujan siang tadi menggeretku pada kenangan masa kecil. Ketika aku tidak perlu memikirkan hal-hal besar dalam hidup. Ketika yang ada dalam otakku hanyalah bermain. Ketika semua keinginan terasa sangat mudah diraih. Ketika dunia terasa sangat aman. Waktu itu jika hujan turun aku seperti anak-anak lainnya akan merasa sangat senang. Jika hujan turun mata kami berbinar-binar karena ketika hujan turun itu berarti aku bisa bermain air, mandi hujan. Meski harus sembunyi-sembunyi, karena biasanya orang tuaku tidak akan mengijinkan. Namun sekali waktu orang tua akan mengijinkan. Kehadiran hujan selalu membawa kesejukan, melapisi udara dengan kesegaran dan menghijaukan pekarangan. Hujan kala itu terasa ajaib di mataku, tak pernah sekalipun aku menggerutu tentang hujan.
Ketika itu, hujan terasa selalu membawa kedamaian. Tak pernah kudengar hujan yang membawa kehancuran, namun hal itu berbalik dengan keadaan hari ini. Hujan kala itu membawa serta orang-orang menjadi satu untuk bergembira, bukan untuk disumpahi. Aku ingin menjadi orang yang selalu bergembira atas datangnya hujan karena aku punya kenangan yang indah tentang hujan. Kenangan tentang masa kecil yang manis bersama orang-orang terkasih.
Hujan memang selalu berhasil menghadirkan waktu yang telah lalu dalam bingkai kenangan.
Thursday, November 6, 2014
Mari Kita Bicara
Mari Kita Bicara
mungkin ketika malam telah gelap menyisakan sinar rembulan
ketika hening menyeruak dan waktu terasa berhenti
Mari Kita Bicara
mungkin ketika ego sudah tidak merajai diri
ketika tenggang rasa telah naik tingkat
Mari Kita Bicara
mungkin ditemani secangkir teh hangat di pagi hari
ketika embun pagi telah menyegarkan pikiran
Mari Kita Bicara
mungkin ketika malam telah gelap menyisakan sinar rembulan
ketika hening menyeruak dan waktu terasa berhenti
Mari Kita Bicara
mungkin ketika ego sudah tidak merajai diri
ketika tenggang rasa telah naik tingkat
Mari Kita Bicara
mungkin ditemani secangkir teh hangat di pagi hari
ketika embun pagi telah menyegarkan pikiran
Mari Kita Bicara
Tak Perlu Nikmat Sakit Untuk Mengerti Nikmat Sehat
Terkadang atau bahkan seringkali manusia selalu mensyukuri nikmat sehatnya ketika nikmat sakit datang padanya. Mungkin itu juga yang terjadi pada saya. Ketika sakit baru ingat betapa bahagianya sehat, betapa berharganya badan sendiri yang harus dijaga dan badanpun butuh istirahat.
Jadi begini ceritanya.
Pada suatu pagi yang cerah saya bangun dengan kepala yang agak nyut-nyutan dan badan yang pegal. Pikir saya karena tidur jam 12 semalam. Untuk menghilangkan pusing dan badan pegal saya langsung sarapan dan mandi. Berharap segera segar, ternyata tidak. Sehabis mandi badan saya tiba-tiba demam tinggi disertai sakit kepala yang hebat. Suhu badan sampai 39 derajat celcius. Aah....ini bakalan sakit, pikir saya.
Singkat cerita setelah demam hari itu, kata dokter saya terkena gejala db alias demam berdarah, dan saya harus segera periksa darah untuk tahu kadar trombosit. What? periksa darah terdengar horor bagi saya, pasalnya saya sangat takut dengan jarum suntik -,-
Namun karena mengingat banyak hal yang harus saya selesaikan dan saya harus sehat akhirnya saya berangkat ke rumah sakit untuk periksa darah. Sudah diduga trombosit turun drastis dari normalnya, sampai 2 kali periksa darah berturut-turut. Melihat hal itu dokter mengatakan saya harus opname, alias menginap di rumah sakit. OMG, antara takut dan bingung, banyak yang tiba-tiba berkecamuk di kepala saya waktu itu. Pertama karena takut jarum, kedua saya asing dengan rumah sakit, ketiga saya anak kos-kosan, keempat tapi saya mau sembuh.
Saya yang sudah pucat dengan kepala yang pusing tak kuasa menolak ketika perawat menusukkan jarum suntik di tangan untuk memasang selang infus. Ternyata rasanya ngilu dan nyeri, tangan saya yang ada infusnya terasa ngilu sekali. Sejak saat itu resmilah saya menjadi pasien rawat inap di rumah sakit. Kesehatan saya naik turun ketika di rumah sakit, ada kalanya saya merasa sangat fit, ada kalanya saya merasa tidak baik. Ada rahasia kecil yang harus kalian ketahui bahwa makanan di rumah sakit tidak enak, saya harus makan bubur dengan lauk yang kadang terlalu asin T.T
Setelah total 4 hari 3 malam di rumah sakit akhirnya saya diijinkan pulang oleh dokter. Senang rasanya akhirnya terbebas dari selang infus dan kamar rumah sakit. Akhirnya saya bisa merasakan udara segar di luar rumah sakit. Namun yang paling penting adalah saya punya pe-er besar untuk menjaga kesehatan saya lebih dari sebelumnya. Sakit itu sangat tidak enak. Badan kita yang sangat berharga ini perlu dijaga, jangan dipaksa untuk terus beraktifitas. Ketika sakit malah baru paham kalau sehat itu sangat berharga. Seharusnya tidak perlu menunggu sakit dulu baru mensyukuri sehat. Pengalaman dirawat di rumah sakit kemarin membuat saya bertekad untuk lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan.
Jadi begini ceritanya.
Pada suatu pagi yang cerah saya bangun dengan kepala yang agak nyut-nyutan dan badan yang pegal. Pikir saya karena tidur jam 12 semalam. Untuk menghilangkan pusing dan badan pegal saya langsung sarapan dan mandi. Berharap segera segar, ternyata tidak. Sehabis mandi badan saya tiba-tiba demam tinggi disertai sakit kepala yang hebat. Suhu badan sampai 39 derajat celcius. Aah....ini bakalan sakit, pikir saya.
Singkat cerita setelah demam hari itu, kata dokter saya terkena gejala db alias demam berdarah, dan saya harus segera periksa darah untuk tahu kadar trombosit. What? periksa darah terdengar horor bagi saya, pasalnya saya sangat takut dengan jarum suntik -,-
Namun karena mengingat banyak hal yang harus saya selesaikan dan saya harus sehat akhirnya saya berangkat ke rumah sakit untuk periksa darah. Sudah diduga trombosit turun drastis dari normalnya, sampai 2 kali periksa darah berturut-turut. Melihat hal itu dokter mengatakan saya harus opname, alias menginap di rumah sakit. OMG, antara takut dan bingung, banyak yang tiba-tiba berkecamuk di kepala saya waktu itu. Pertama karena takut jarum, kedua saya asing dengan rumah sakit, ketiga saya anak kos-kosan, keempat tapi saya mau sembuh.
Saya yang sudah pucat dengan kepala yang pusing tak kuasa menolak ketika perawat menusukkan jarum suntik di tangan untuk memasang selang infus. Ternyata rasanya ngilu dan nyeri, tangan saya yang ada infusnya terasa ngilu sekali. Sejak saat itu resmilah saya menjadi pasien rawat inap di rumah sakit. Kesehatan saya naik turun ketika di rumah sakit, ada kalanya saya merasa sangat fit, ada kalanya saya merasa tidak baik. Ada rahasia kecil yang harus kalian ketahui bahwa makanan di rumah sakit tidak enak, saya harus makan bubur dengan lauk yang kadang terlalu asin T.T
Setelah total 4 hari 3 malam di rumah sakit akhirnya saya diijinkan pulang oleh dokter. Senang rasanya akhirnya terbebas dari selang infus dan kamar rumah sakit. Akhirnya saya bisa merasakan udara segar di luar rumah sakit. Namun yang paling penting adalah saya punya pe-er besar untuk menjaga kesehatan saya lebih dari sebelumnya. Sakit itu sangat tidak enak. Badan kita yang sangat berharga ini perlu dijaga, jangan dipaksa untuk terus beraktifitas. Ketika sakit malah baru paham kalau sehat itu sangat berharga. Seharusnya tidak perlu menunggu sakit dulu baru mensyukuri sehat. Pengalaman dirawat di rumah sakit kemarin membuat saya bertekad untuk lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan.
Halo, Selamat Pagi!
Haloo
Selamat Pagi Dunia!
Semoga hari ini penuh semangat dan penuh berkah
Pagi ini keinginan saya untuk menulis di blog terpenuhi. Sejak semalam sudah mau nulis tapi ada hal lain yang harus dikerjakan, maka jadilah ditunda sampai pagi tiba. Rasanya kangen sekali nulisin ini blog. Beberapa waktu absen karena banyak hal tiba-tiba yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini.
Lama enggak nge-blog jadi banyak ketinggalan berita di dunia blogging. Misalnya tulisan teman saya yang makin keren aja di blognya, review novel-novel terbaru, catatan-catatan random di blog orang yang menyelipkan banyak inspirasi, dan banyak lagi yang lain.
Sepertinya pagi adalah waktu yang tepat untuk memulai. Memulai aktifitas yang baik. Salah satunya menulis.
Selamat Pagi, Selamat Berkarya!
Selamat Pagi Dunia!
Semoga hari ini penuh semangat dan penuh berkah
Pagi ini keinginan saya untuk menulis di blog terpenuhi. Sejak semalam sudah mau nulis tapi ada hal lain yang harus dikerjakan, maka jadilah ditunda sampai pagi tiba. Rasanya kangen sekali nulisin ini blog. Beberapa waktu absen karena banyak hal tiba-tiba yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini.
Lama enggak nge-blog jadi banyak ketinggalan berita di dunia blogging. Misalnya tulisan teman saya yang makin keren aja di blognya, review novel-novel terbaru, catatan-catatan random di blog orang yang menyelipkan banyak inspirasi, dan banyak lagi yang lain.
Sepertinya pagi adalah waktu yang tepat untuk memulai. Memulai aktifitas yang baik. Salah satunya menulis.
Selamat Pagi, Selamat Berkarya!
Saturday, October 25, 2014
Malam Minggu Pertama Tanpamu
Malam ini malam minggu bukan?
Malam ini menjadi malam minggu pertama saya sendirian di kosan. Yaa pasalnya partner sekamar saya yaitu adek saya sendiri sudah pulang kampung. Mari ucapkan selamat dulu pada adek saya ini karena ia baru saja wisuda, sudah jadi sarjana euy. Selamat sayang, akhirnya kuliahnya terlewati dengan lancar hingga bisa wisuda tepat waktu. Membanggakan. Semoga moment wisuda ini menjadi pintu kebaikan, ilmunya berkah dan bermanfaat bagi banyak orang.
Entah mengapa malam ini jadi kangen.
Malam ini malam minggu bukan?
Biasanya malam minggu kami akan pergi makan di luar, menjadi reward buat diri sendiri setelah satu minggu berkutat dengan urusan masing-masing. Kami mencoba tempat makan baru atau ke tempat makan yang sering kami datangi, atau sekedar ke tempat makan bakso langganan kami. Setiap malam minggu kadang kami ke toko buku, atau belanja ketika ada yang ingin dibeli--tapi seringnya cuma lihat-lihat doang sih...hahaha.
Dialah adek perempuan saya yang menjadi partner saya selama di Jogja. Menjadi teman tidur saya, teman cerita saya, teman makan saya dan teman jalan-jalan saya. Kadang ada pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi di antara kami, yang kadang membuat suasana menjadi dingin. Tapi seiring waktu kami berbaikan dengan sendirinya...hehe.
Adek saya ini sangat senang mendengarkan cerita, dia senang saya membacakan buku untuknya, apalagi sebelum tidur. Pipinya yang tembam sering saya cubit karena gemas. Ia suka rempong kalau mau bepergian, cerewet bertanya mau pakai baju apa dan bagaimana tampilannya. Aaah Kangen... T,T
Sekali lagi selamat udah jadi sarjana ya, kembali ke kampung halaman untuk mengabdi. Semoga segala impiannya tercapai :)
Malam ini menjadi malam minggu pertama saya sendirian di kosan. Yaa pasalnya partner sekamar saya yaitu adek saya sendiri sudah pulang kampung. Mari ucapkan selamat dulu pada adek saya ini karena ia baru saja wisuda, sudah jadi sarjana euy. Selamat sayang, akhirnya kuliahnya terlewati dengan lancar hingga bisa wisuda tepat waktu. Membanggakan. Semoga moment wisuda ini menjadi pintu kebaikan, ilmunya berkah dan bermanfaat bagi banyak orang.
Entah mengapa malam ini jadi kangen.
Malam ini malam minggu bukan?
Biasanya malam minggu kami akan pergi makan di luar, menjadi reward buat diri sendiri setelah satu minggu berkutat dengan urusan masing-masing. Kami mencoba tempat makan baru atau ke tempat makan yang sering kami datangi, atau sekedar ke tempat makan bakso langganan kami. Setiap malam minggu kadang kami ke toko buku, atau belanja ketika ada yang ingin dibeli--tapi seringnya cuma lihat-lihat doang sih...hahaha.
Dialah adek perempuan saya yang menjadi partner saya selama di Jogja. Menjadi teman tidur saya, teman cerita saya, teman makan saya dan teman jalan-jalan saya. Kadang ada pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi di antara kami, yang kadang membuat suasana menjadi dingin. Tapi seiring waktu kami berbaikan dengan sendirinya...hehe.
Adek saya ini sangat senang mendengarkan cerita, dia senang saya membacakan buku untuknya, apalagi sebelum tidur. Pipinya yang tembam sering saya cubit karena gemas. Ia suka rempong kalau mau bepergian, cerewet bertanya mau pakai baju apa dan bagaimana tampilannya. Aaah Kangen... T,T
Sekali lagi selamat udah jadi sarjana ya, kembali ke kampung halaman untuk mengabdi. Semoga segala impiannya tercapai :)
Sunday, October 12, 2014
Anak-Anak adalah Cerminan Orangtua
Sepagi ini saya membaca sebuah berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh beberapa siswa Sekolah Dasar kepada teman mereka. Kemudian setelah menelusuri terdapat tautan videonya dan sayapun membuka video tersebut, durasi video sekitar 1.25 menit. Saya harus mengakui, airmata saya jatuh melihat video itu. Saya tiba-tiba merasa sangat sedih melihat kejadian dalam video tersebut. Sekelompok anak-anak melakukan kekerasan kepada seorang anak lain teman sekelas mereka, dan si anak yang dipukuli hanya bisa menangis tak mampu melawan keroyokan teman-temannya.
Muncul banyak pertanyaan. Mengapa sampai saat ini kekerasan masih saja menjadi trending topik dalam pemberitaan media. Mengapa sampai hari ini ada saja berita kekerasan yang sampai kepada kita, terutama kekerasan yang dilakukan atau dialami oleh anak-anak. Ini masalah besar. Bayangkan jika sedari kecil anak-anak terbiasa melakukan tindakan kekerasan. Terbiasa saling pukul dan memukul teman mereka hingga menganggap kalau tindakan itu adalah hal yang biasa. Mereka bisa jadi akan tumbuh dengan rasa egois, mudah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah sampai akan sanggup untuk menyakiti diri sendiri. Untuk anak yang sering menerima kekerasan akan tumbuh dengan rasa trauma, rasa takut, dan rasa tidak percaya diri. Itu semua akan terjadi jika tidak ada penanganan yang serius untuk menghentikan kekerasan yang sering terjadi.
Sesungguhnya anak-anak adalah cerminan dari orangtua, bukan hanya berarti orang tua di rumah namun orangtua secara luas termasuk di dalamnya orang-orang dewasa di sekitarnya serta lingkungan mereka. Banyaknya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kurang atau salah dalam pengasuhan dan lingkungan mereka. Hal tersebut dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu dari rumah atau keluarga. Mari bercermin, mungkin sebagai orangtua kita terlalu mudah berteriak, mudah memarahi dan melayangkan pukulan pada anak-anak hanya karena anak-anak melakukan hal-hal yang menurut kita tidak benar. Seharusnya kita menegur dengan lembut sambil memberikan teladan yang baik. Harus diingat bahwa anak-anak adalah peniru nomer satu, mereka akan menirukan apapun yang mereka lihat dan dengar dari orang-orang dan lingkungan sekitar mereka.
Berbagai media yang saat ini begitu mudah diakses juga menyumbang pengaruh munculnya kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Banyaknya sinetron-sinetron yang tidak mendidik yang ditonton oleh jutaan penduduk Indonesia termasuk anak-anak menjadi salah satu penyebab kekerasan yang terjadi. Orang-orang dewasa di sekitar kita juga tidak kalah besar sumbangannya dalam memunculkan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Orang-orang dewasa saat inipun begitu mudah melakukan kekerasan pada anak-anak, mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, saling menjatuhkan sampai mengolok-olok fisik seseorang, dan semua itu dilakukan dengan bebas tersebar di media sosial yang begitu mudah diakses oleh anak-anak.
Ini adalah tanggung jawab kita semua, para orangtua, para guru, pemerintah, pemilik badan usaha dan orang-orang dewasa lainnya untuk sama-sama memikirkan sejenak apakah tingkah yang kita lakukan akan memberi dampak buruk pada anak-anak atau tidak. Jika akan memberi dampak buruk pada anak-anak maka pikirkan ulang. Anak-anak adalah harta berharga penerus bangsa, jika mereka hanya dicekoki dengan kekerasan, maka apa kabar semangat mereka tentang belajar? apa kabar semangat mereka untuk berimajinasi dan berkreatifitas?
Muncul banyak pertanyaan. Mengapa sampai saat ini kekerasan masih saja menjadi trending topik dalam pemberitaan media. Mengapa sampai hari ini ada saja berita kekerasan yang sampai kepada kita, terutama kekerasan yang dilakukan atau dialami oleh anak-anak. Ini masalah besar. Bayangkan jika sedari kecil anak-anak terbiasa melakukan tindakan kekerasan. Terbiasa saling pukul dan memukul teman mereka hingga menganggap kalau tindakan itu adalah hal yang biasa. Mereka bisa jadi akan tumbuh dengan rasa egois, mudah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah sampai akan sanggup untuk menyakiti diri sendiri. Untuk anak yang sering menerima kekerasan akan tumbuh dengan rasa trauma, rasa takut, dan rasa tidak percaya diri. Itu semua akan terjadi jika tidak ada penanganan yang serius untuk menghentikan kekerasan yang sering terjadi.
Sesungguhnya anak-anak adalah cerminan dari orangtua, bukan hanya berarti orang tua di rumah namun orangtua secara luas termasuk di dalamnya orang-orang dewasa di sekitarnya serta lingkungan mereka. Banyaknya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kurang atau salah dalam pengasuhan dan lingkungan mereka. Hal tersebut dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu dari rumah atau keluarga. Mari bercermin, mungkin sebagai orangtua kita terlalu mudah berteriak, mudah memarahi dan melayangkan pukulan pada anak-anak hanya karena anak-anak melakukan hal-hal yang menurut kita tidak benar. Seharusnya kita menegur dengan lembut sambil memberikan teladan yang baik. Harus diingat bahwa anak-anak adalah peniru nomer satu, mereka akan menirukan apapun yang mereka lihat dan dengar dari orang-orang dan lingkungan sekitar mereka.
Berbagai media yang saat ini begitu mudah diakses juga menyumbang pengaruh munculnya kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Banyaknya sinetron-sinetron yang tidak mendidik yang ditonton oleh jutaan penduduk Indonesia termasuk anak-anak menjadi salah satu penyebab kekerasan yang terjadi. Orang-orang dewasa di sekitar kita juga tidak kalah besar sumbangannya dalam memunculkan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Orang-orang dewasa saat inipun begitu mudah melakukan kekerasan pada anak-anak, mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, saling menjatuhkan sampai mengolok-olok fisik seseorang, dan semua itu dilakukan dengan bebas tersebar di media sosial yang begitu mudah diakses oleh anak-anak.
Ini adalah tanggung jawab kita semua, para orangtua, para guru, pemerintah, pemilik badan usaha dan orang-orang dewasa lainnya untuk sama-sama memikirkan sejenak apakah tingkah yang kita lakukan akan memberi dampak buruk pada anak-anak atau tidak. Jika akan memberi dampak buruk pada anak-anak maka pikirkan ulang. Anak-anak adalah harta berharga penerus bangsa, jika mereka hanya dicekoki dengan kekerasan, maka apa kabar semangat mereka tentang belajar? apa kabar semangat mereka untuk berimajinasi dan berkreatifitas?
Subscribe to:
Posts (Atom)