Showing posts with label proposal. Show all posts
Showing posts with label proposal. Show all posts

Tuesday, October 7, 2014

Oktober Galau

Haiihooo
Apa kabar warga blog? Semoga sehat aman damai selalu yaa!

Udah lama enggak nulis di blog ini, traffic turun gara-gara enggak ada posting baru..hahaha
Kenapa tulisan ini judulnya Oktober galau? Ada apa dengan bulan oktober ini hingga menjadi galau?
Well, sebenarnya sayalah yang galau tepatnya di bulan oktober ini. Beberapa minggu menghilang dari blog karena sibuk nulis proposal penelitian untuk tugas akhir alias tesis (ciee…sibuk, padahal sibuk di sosmed yang lain…hahaha)---abaikan. Tapi serius, proposal penelitian inilah yang membuat saya galau, berawal dari gonta ganti metode gegara dospim utama saya enggak sreg, dan sayapun harus baca-baca lagi untuk menemukan metode yang lain. Ngumpulin bahan lagi, baca lagi, bikin catatan lagi kemudian menuliskannya lagi. Sambil ngumpulin data-data sekunder yang dibutuhkan untuk penelitian. Selain itu tanya-tanya dan diskusi bareng teman, tentu sama dosen pembimbing juga.

Untungnya dosen pembimbing saya baik, baik banget. Apalagi dospim pendamping, setiap bimbingan selalu bersedia dengar keluh kesah saya dan enak banget diajak diskusi, ketika saya bilang maaf pak saya harus baca-baca dulu sebelum nulis ulang, makanya lama menghadap...kemudian bapaknya bilang, iya tidak apa-apa asal jangan menghilang, tidak ada yang bisa menulis dalam sekejap, Verstappen (ahli geomorfologi Indonesia) saja penelitian 30 tahun sebelum dia menulis buku tentang geomorfologi Indonesia yang dipakai diseluruh dunia sampai hari ini. Hati saya mengembang, lumayan memberikan semangat. Kalau Dospim utama saya seorang profesor yang ramah dan bapaknya pinter banget, asli deh!. Jangan tanya dia tentang hal yang remeh temeh atau kalau tidak langsung disuruh ke perpustakaan, baca sendiri..haha

Setelah menulis, kemudian beberapa kali presentasi depan dospim akhirnya proposal di tandatangani yang artinya saya bisa mendaftar untuk ujian proposal. Senang? ya iyalah :D
Terus kenapa galau?, yap galaunya belum berakhir karena diujung persiapan mau daftar ujian dospim pendamping memberikan beberapa hal yang harus saya tambahkan di proposal, apa daya, baiklah...tarik napas, laksanakan. Selain itu prodi mengundurkan jadwal ujian proposal menjadi akhir bulan ini dari rencana semula pertengahan bulan ini. Entahlah..antara senang dan tidak, tidak senang karena mundurnya ujian proposal berarti mundurnya jadwal ke lapangan dan analisis data. Senang karena rasanya bisa sedikit santai, bisa memperbaiki proposal dan menyiapkan dengan lebih baik untuk ujian proposal supaya tidak ada revisi-revisi lagi. Tapi sebenarnya sih pasti akan ada revisi lagi, karena saat ujian pasti ada penguji yang akan memberikan masukan dan mengoreksi kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Jadi mari dihadapi saja.

Semoga galau ini segera berakhir ya.

Kalau ibuk bilang, ibuk sama bapak selalu doa buat anak-anaknya semoga dilancarkan ya, yang semangat :)

Tuesday, June 24, 2014

Sepenggal Cerita dengan Tukang Ojek

Cerita ini berawal dari kejadian kemarin saya pulang dari kampus menuju kos dengan menggunakan ojek. Saya naik ojek bukan karena becek loh ya. Saya harus pulang pake’ ojek karena adik saya yang kebetulan membawa motor tidak bisa menjemput ke kampus karena dia ada ujian mendadak sampai jam 7 malam. Hari semakin sore dan sayapun harus segera pulang karena jam 7 saya ada ujian di kelas Jerman, mana belum belajar lagi, pikir saya. Akhirnya saya berjalan menuju tempat pangkalan ojek yang ada di seberang gerbang kampus. Ini adalah pengalaman pertama saya naik ojek di kota ini.

Tawar menawarpun terjadi, saya mencoba menawar ongkos ojek, karena menurut saya harga yang ditawarkan tukang ojek itu mahal untuk ukuran dari kampus menuju kos saya. Terjadi penawaran yang cukup sengit sambil bercakap-cakap dengan tukang ojeknya sebelum terjadi kesepakatan. Saya memilih naik ojek supaya cepat sampai, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya saya pernah naik trans jogja dari kampus ke kos, namun ternyata waktu yang dibutuhkan jadi tiga kali lipat karena harus mutar-mutar dulu ke shelter-shelter yang lain. Saya juga tidak mau menggunakan angkot atau yang biasa disebut bis oleh warga jogja, tapi teman saya menyebutnya odong-odong entah kenapa. Saya tidak mau naik angkot karena tidak ada juga angkot yang jalurnya melalui jalan ke kos saya, pemberhentiannya itu masih terlalu jauh dari kos saya.

Kala itu langit mendung, sepertinya di wilayah selatan sudah turun hujan, di wilayah utara tempat kampus saya, tinggal menunggu waktu untuk hujan turun. Mengingat itu, saya segera saja menyepakati perjanjian dengan tukang ojek tersebut dengan potongan harga seperti yang saya minta.

Di tengah perjalanan, mungkin karena sedang hangatnya dalam masa pemilihan capres tiba-tiba sang tukang ojek bertanya pada saya “Mbak nanti mau pilih siapa presidennya?” , karena memang belum ada ide mau memilih siapa saya menjawab “belum tahu pak, biarlah nanti itu menjadi rahasia” jawab saya sekenanya. Bapak tukang ojek tersebut tanpa diminta langsung menyampaikan pendapatnya. Dia mengatakan kalau paling tidak ada yang diyakinilah mbak, dia sampai menyebutkan siapa calon yang akan ia pilih, alasannya menurut dia calonnya merakyat dan sederhana. Mendengar jawabannya saya lalu bertanya tahu darimana bapak kalau dia merakyat dan sederhana, bapak tukang ojek menjawab yaa keyakinan aja sih mbak. Saya bertanya lagi tapi nanti ketika calon bapak benar-benar terpilih apa bapak akan ikut mengawasi apa yang ia lakukan. Bapak tukang ojek jawab lagi “yaa G’ bisa mbak, rakyat kecil kayak saya gimana caranya mengawasi”. Dari jawaban itu, saya jadi mikir juga gimana ya cara rakyat seperti bapak tukang ojek itu mengawasi pemimpinnya, sedangkan kebanyakan suara mereka jarang di dengar oleh orang-orang yang berkuasa.

Sepanjang perjalanan menuju kos, dalam percakapan yang tercipta, muncul kalimat-kalimat penuh harap dan doa dari bapak tukang ojek. Ia berharap biaya pendidikan jangan semahal sekarang, gratislah kalau bisa. Dari sini dapat dilihat bahwa meski dana Bos sudah ada tetap saja sekolah masih mahal, karena ternyata banyak sekolah-sekolah yang masih memungut biaya macam-macam kepada murid-muridnya. Bapak itu berharap supaya anak-anak bisa sekolah setinggi-tingginya. Saya terharu mendengarnya.

Siapa sangka naik ojek kemarin sore memberi pelajaran berharga, bapak itu tetap memprioritaskan pendidikan untuk anak-anaknya, memprioritaskan kemudahan akses pendidikan yang lebih baik yang harus diwujudkan oleh calon pemimpin terpilih nanti. Ia tahu betapa pentingnya pendidikan.

Terlepas dari siapapun nanti yang terpilih sebagai pemimpin semoga bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik. Baiknya suatu bangsa sebenarnya bukan hanya urusan atau tanggung jawab pemimpin semata namun ada rakyat di dalamnya, apakah rakyat tersebut mau menjadi lebih baik atau tidak.

Entah si A atau si B yang terpilih, tetap saja saya harus mengerjakan proposal penelitian yang menjadi tanggungan saya. Pembimbing tidak peduli siapa presidennya yang ia tahu adalah saya harus segera menunjukkan hasil kerja saya dan mempresentasikannya. Saya mau sibuk dengan proposal saja, karena lowongan untuk jadi jubir capres sudah penuh :p

Sunday, June 22, 2014

Sebuah Tantangan

Hidup memang penuh tantangan, terlebih lagi tantangan untuk melawan rasa malas. Melawan rasa malas pada diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu yang harus segera diselesaikan. Salah satunya adalah rasa malas untuk mulai menyentuh proposal penelitian yang beberapa hari lalu di abaikan. Sebenarnya simple alasannya hanya karena malas, merasa lebih asyik mengerjakan yang lain. Mulai dari hal-hal yang remeh temeh sampai hal-hal yang memang mendesak untuk dilakukan. Ketika ada keinginan untuk mulai mengerjakan malah muncul gangguan-gangguan yang mengalihkan perhatian.

Menulis proposal penelitian tentu sangat berbeda dengan menulis tulisan fiksi, puisi/sajak yang sering saya tulis, tulisan-tulisan di blog, apalagi hanya tweetan di twitterland atau status-status facebook. Banyak sekali teori yang sudah saya peroleh tentang penulisan karya ilmiah, mulai dari sejak aktif di ukm penalaran dan riset ilmiah jaman kuliah dulu sampai terahir kemarin dalam kuliah proposal writing. Mulai dari bagaimana menulis latar belakang yang menarik, yang memberikan informasi bahwa penelitian yang kamu lakukan itu punya nilai lebih, unik, berharga untuk dilakukan, dan sebagainya dan sebagainya. Meskipun begitu tetap saja ketika mulai menulis terkadang ada rasa bingung, bingung mau mulai darimana, bagaimana menyusun kalimatnya dengan baik, tanpa membuat makna ganda.

Saya jadi ingat pesan yang disampaikan seorang dosen saya, seorang Profesor muda di bidangnya. Mulai sekarang rajin-rajinlah membaca, membaca apa saja, buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah, buat catatan atas apa yang telah kau baca, lalu tuangkan pemikiran atau kesimpulanmu atas apa-apa yang telah kau baca, itu akan memudahkanmu dan akan menjadi amunisimu ketika mau menulis, terlebih lagi dalam penyusunan tesis nanti. Yaaa…kembali lagi tidak jauh-jauh dari pesan untuk membaca, sebagai bekalmu untuk menulis.

Begitu banyak bahan yang telah saya kumpulkan, menunggu untuk dibaca dan dipahami. Selain itu diskusi dengan pembimbing sebagai seorang yang ahli juga sangat perlu untuk dilakukan. Diskusi juga menjadi salah satu cara untuk membuka pikiran dan dapat melahirkan ide.

Penulisan karya ilmiah seperti skripsi atau tesis atau apapun namanya memang adalah tentang mencari masalah dan mencari solusinya. Mencari masalah yang selama ini dihadapi oleh manusia dan sekaligus mencari solusi pemecahannya. Ada yang menemui jalan yang mudah untuk mendapatkan solusi, namun ada juga yang bertemu jalan yang yang penuh liku untuk mendapatkan jawaban. Dibalik itu semua satu hal yang harus diyakini adalah jawaban mungkin sulit dicari, tetapi jawaban itu selalu ada.

Semangat

Monday, May 19, 2014

Menjelang Siang

Pagi ini aku bangun dengan tergopoh lantaran jam sudah menunjukkan pukul 5

Aah..telat, sholat subuh telat, 

ini gara-gara semalam tidur telat, sebenarnya bukan alasan, tidak ada alasan untuk ini

*********

Pikiranku masih tentang rencana proposal, usulan penelitian di kampus yang masih belum menemukan titik terang. Walau kemarin ada sedikit cerah yang datang sehabis diskusi dengan seorang teman. Yaaa ternyata berdiskusi salah satu cara untuk membuka pikiran dan melaluinya dapat lahir ide-ide baru. Thanks God

Menjelang siang ini, masih berkutat dengan jurnal, spesifiknya sih mendownload jurnal bahan proposal, banyak yang berhasil aku download dan semoga rasa malas tidak menghampiri untuk membacanya. 

Sepertinya, usaha lebih keras dari sebelumnya yang dibutuhkan saat ini. Usaha untuk membaca lebih banyak, mendengar lebih banyak, bertindak lebih banyak, dan mengerjakan lebih banyak.

Sekian

*catatan ketika menjelang siang ditemani sinyal wifi yang turun naik