Sunday, September 8, 2019

#MarriedLife: Mendapati Dua Garis Merah



Saya tahu di luar sana banyak pasangan yang bersepakat untuk tidak memiliki anak, dan banyak juga pasangan yang ingin memiliki anak. Tergantung dari kesepakatan masing-masing pasangan. Namun culture di Indonesia yaaa gitu, tetangga sekampung ikut maksa pasangan-pasangan untuk memiliki anak. Bahkan memaksa agar pasangan-pasangan tersebut untuk memiliki anak lebih dari satu. Tentu didahului oleh “never ending question” ~

Saya dan pak suami adalah pasangan yang bersepakat untuk memiliki anak. Seperti kebanyakan pasangan lainnya yang setelah menikah mengidam-idamkan hadirnya buah hati, kamipun begitu. Bagi kami anak akan menjadi penyambung amal jariah, perekat keluarga, bagian dari pembangun peradaban baik yang kami harapkan. Kedengarannya berat, tapi kami mau belajar.

Setahun menikah belum ada tanda-tanda kehamilan membuat saya berpikir berarti Allah belum percaya kepada kami. Mungkin mental kami belum siap, egonya masih terlalu tinggi, emosi masih tidak terkontrol atau masih ada rasa kurang syukur. Lagian kenapa harus menggantungkan rasa bahagia terhadap benda? Anak kan juga benda, yang Allah titipkan. Jadi sebenarnya rasa bahagia dalam pernikahan itu tidak bergantung pada punya anak atau tidak. Bahagia ya ada di hati masing-masing.

Pelan-pelan saya menjauhkan perasaan-perasaan galau akan kehadiran buah hati. Saya mengubah mindset saya, mengafirmasi diri sendiri dengan pikiran positif. Saya menghindari orang-orang yang akan memberikan efek negatif terhadap pikiran saya. Ternyata bersikap tidak peduli dengan apa kata orang menyenangkan juga. Eh tapi selama ini saya sering tidak peduli sih dengan apa kata orang….LOL. Saya memasrahkan diri, tidak memusatkan pikiran terhadap apa yang tidak/belum saya punya. Lebih baik berfokus pada apa yang sudah saya punya.

Meski begitu, saya dan pak suami tetap terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan memiliki seorang anak. Kamipun merencanakan usaha-usaha yang akan kami tempuh. Mulai dari yang alami sampai dengan tindakan medis. Saran-saran baik dan masuk akal kami terapkan juga. Observasi awal kami lakukan untuk memeriksa kesehatan reproduksi kami masing-masing. Kenapa masing-masing, karena keberadaan anak itu terwujud dari pertemuan dua orang, suami dan istri. Jadi kalau si istri doang yang observasi kan nggak masuk akal. Suami juga dong, biar tahu bagaimana kondisi masing-masing lalu bisa menjalani tindakan-tindakan lanjutan yang sesuai.

Saya bersyukur memiliki pasangan yang terbuka, open minded, punya penghargaan kepada orang lain, dan mau bekerja sama ~ bukan tipe lelaki kolot patriarki yang sok berkuasa.
Hampir setahun terakhir saya belajar beberapa hal, sebagai bentuk persiapan memiliki anak. Mulai dari tentang kesehatan, parenting dan tentu saja soal manajemen keuangan. Tahu kan punya anak itu biayanya tidak sedikit, jadi harus persiapan. Belanja sekadarnya, menabung sebanyak-banyaknya, bila perlu investasi. Masih kurang ilmunya tapi kami akan terus belajar <3
***
Setelah genap dua tahun lebih satu bulan usia pernikahan kami, saya mendapati testpack bergaris merah. Bukan hanya satu, tapi DUA. Entah kenapa di hari itu (hari minggu di waktu magrib, kusungguh ingat) saya berniat untuk melakukan testpack setelah setahun saya tidak pernah melakukannya. Memang pada bulan itu saya sudah telat menstruasi selama satu minggu tapi tetap ada keraguan untuk melakukan testpack karena biasanya selalu sedih sehabis testpack. Tapi di satu sisi saya seperti punya feeling bahwa kali ini akan positif. Pasalnya siklus menstruasi saya selalu tepat waktu lima bulan terakhir. Sungguh dilematis saat itu.

Saya menguatkan diri untuk melakukan testpack tanpa memberi tahu pak suami. Kemudian jantung saya berdetak kencang mendapati dua garis merah muncul di alat testpack. Meskipun samar tapi terlihat bahwa garisnya dua. Lalu bingung harus bagaimana…wkwkwk. Saya malah bingung bagaimana mengabarkan ke pak suami. Maunya sih pake kejutan yang romantis-romantis kayak orang-orang ya tapi boro-boro. Saya tidak mau deg degan sendirian. Langsunglah saya kasitau pak suami yang juga diikuti oleh kebingungan. Jadi kami sama-sama bingung. Campur aduk rasanya, excited, bahagia, tapi juga ada takutnya.

Untuk menghilangkan kebingungan dan keraguan saya menghubungi adik saya yang lebih berpengalaman dan yess dia bilang positif. Tapi untuk lebih meyakinkan dia menyarankan untuk testpack lagi besok pagi setelah bangun tidur. Dan yaaaa, dua garis merah itu terlihat semakin jelas. Tanpa sadar wajah saya membentuk senyum yang terus saja terpancar seharian. Meski begitu saya masih punya perasaan takut, kalimat-kalimat “what if” berseliweran di kepala saya. Bagaimana kalau tidak ada kantung janinnya? bagaimana kalau kantung janinnya bukan di rahim tapi di tempat lain? dan bagaimana kalau bagaimana kalau lainnya.

Tiga hari (26 Juni 2019) dari hari testpack kami mendatangi praktik dokter kandungan yang mengobservasi kami di awal dulu. Saya memilih dokter kandungan perempuan, karena merasa lebih nyaman. Dokter melihat rekaman medis saya sebelumnya, lalu berkomentar “wah ternyata tinggal nunggu dikasi saja ya” sambil tersenyum lebar. Komentar tersebut muncul karena kami hanya datang satu kali ke dokter kandungan hanya untuk observasi awal saya dulu, tahun lalu. Setelah itu dokter melakukan USG untuk mengecek kehamilan saya. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah hasil USG-nya sesuai dengan apa yang kami harapkan. Saya dinyatakan positif hamil dengan kantong janin berada di rahim. Rasanya hati saya penuh dengan keharuan dan senang yang meluap-luap. Sayapun melihat hal yang sama pada pak suami <3

usianya sudah lima minggu saat itu :')
*Saya akan kembali dengan lanjutan #MarriedLife~#PregnancyStory di postingan berikutnya, stay tune!

Much Love,
A.

No comments:

Post a Comment